BURUH : MESIN KENDALI TANPA GAJI

•Februari 22, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
Buruh

Buruh

Himpitan ekonomi yang semakin berat telah mengaburkan sebuah azas-azas humanisme, dimana teori dari hukum rimba lebih dominan bagi kehidupan masyarakat di era kontemporer ini. Kita melihat bahwa terdapat beberapa lapisan masyarakat yang terbagi berdasarkan class didalam era modern, dan buruh adalah kelas atau kasta terbawah yang menduduki hierarki kehidupan pada zaman modern.

Dilema-dilema yang sering dihadapi buruh adalah permsalahan pengakuan keeksistensian mereka dalam lindungan humanis, perrmasalahan PHK yang tidak pernah usai, dimana kepentingan dan hak-hak buruh itu sangat minim sekali diperhatikan. Buruh atau Human Labor lebih sering ditafsirkan sebagai sebuah mesin kendali canggih pada era modern yang tidak mempunyai gaji. Keeksistensian buruh dan hasil produk yang dihasilkan buruh hanya dihargai dengan sebuah upah yang minim, dan carut marut atasan yang merecoki mereka sebagai seorang budak.

Pada pembagiannya kelas dari buruh itu terbagi atas beberapa kelas, namun yang paling menonjol adalah adalah kelas buruh dengan afiliasi pabrik dengan kelas buruh serabutan, dan kita melihat konteks kelas buruh dengan prototipe serabutan adalah kelas buruh yang mengafiliasikan aktifitasnya sebagai seorang kuli atau seorang tukang anggkat.

Daya guna seorang buruh pada dasarnya hanya dipergunakan ketika seorang buruh itu masih kuat atau masih produktif didalam menghasilkan produk. Namun pada bagian buruh yang sudah memasuki usia senja dan ketika tenaga mereka semakin ringgkih, daya guna guna seorang buruh tidak diperlukan lagi sebagai Human Labor. Posisi buruh didalam kehidupan era modern adalah sekelompok kelas sosial yang kedudukannya terletak pada strata terbawah, dimana hak-hak dan kepentingan mereka terpinggirkan oleh kepentingan individu yang lebih dominan.

Mengenai upah dari seorang buruh dalam praktiknya tidak ada ketetapan yang jelas mengenai pembatasan atas pembagian upah bagi seorang buruh, seorang buruh hanya diidentikkan sebagai seorang tenaga kasar, dengan upah minim yang kepentingannya tidak begitu penting. Maka dapat diartikan bahwa buruh adalah sebuah mesin kendali otomatis.

Dalam kajian Marxisme, atau pada Negara-negara komunis kepentingan buruh adalah sebuah kepentingan yang harus diperhatikan, dan mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Hal ini mungkin dikarenakan keeksistensian buruh sebagai tenaga kerja yang menghasilkan suatu produk dan ikut menggerakkan perekonomian suatu Negara hanya bayangan utopis bagi seorang buruh.

Posisi sebagai seorang buruh pabrik atau tenaga kerja adalah sebuah posisi di ujung gading, dimana mereka harus siap menerima jika pemecatan dijatuhkan kepada mereka. Lemahnya hukum di Indonesia bahkan tidak mampu melindungi hak-hak dari buruh, namun yang ada hanyalah hukum yang lebih memihak atau subjektif kepada kapialis era modern yang telah mengungkukng buruh sebagai Human Labor tanpa gaji dan dihargai dengan upah yang tidak memadai.

Resiko memang jika menjadi seorang buruh, namun pemilihan hidup untuk menjadi buruh bukanlah pilihan mereka, mereka adalah sekelompok masyarakat yang terjerat oleh arus konsumtif dari kehidupan yang mutlak mereka penuhi. Terkadang kekurangsenangan atau riak-riak suara penuntutan buruh malah hanya akan menjadi sebuah pemecatan yang pada akhirnya malah menciptakan hidup menjadi sebuah konflik yang keras yang harus mereka hadapi. Pada dasarnya hubungan antara buruh dengan pemimpin pabrik tidak tercipta suatu komunikasi yang baik, diamana dilemma-dilema yang sering menghantui buruh seperti masalah waktu kerja, pembagian upah yang minim kerapkali menjadi picu maslah dalam sebuah pabrik terutama sekali pada buruh itu sendiri.

Sampai sekarang ini belum ada keberpihakan pemerintah pada “buruh sebagai mesin tenaga kerja tanpa henti” apa lagi pada Parpol, mereka memang hanya membawa nama buruh sebagai isu-isu krusial yang yang mereka angkat dan pada akhirnya menjadi sebuah ajang pencarian simpati buruh terhadapap salah satu Parpol. Seharusnya jika mememang Partai tersebut lebih berafialiasi atau berpihak kepada buruh, maka sudah sewajibnya mereka memperhatikan dan melindungi hak-hak buruh dengan sebuah langkah kongkret, dan bukannya hanya menjadikan isu buruh sebagai metode pencarian simpati didalam ajang pemilu.

Persoalan semakin pelik ketika buruh harus disungguhi donktrin yang memberatkan, salah satunya adalah Surat Keputusan Bersama Empat Menteri tentang Pemeliharaan Momentum Pertumbuhan Ekonomi Nasional di dalam mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Global.

Seperti yang telah saya jabarkan diatas, bahwasanya masalah yang selalu menjadi bayang-bayang bagi seorang buruh adalah masalah PHK, pemberhentian buruh secara mendadak adalah sebuah masalah klasik yang dari dahulu selalu dibicarakan oleh buruh, ini memperlihatkan bahwa keberpihakan kepada buruh pada dasarnya hanya isu-isu krusial yang dijadikan mitos, tanpa ada penanganan dan tanpa ada kepastian yang jelas mengenai masalah PHK. Yang lebih parah lagi adalah ketika sekelompok buruh di PHK dan mereka tidak mendapatkan pesangon.

Jadi kesimpulannya adalah, posisi seorang buruh adalah posisi yang sangat rawan bagi sekelompok manusia pada era modern. Pertama, tidak adanya perlindungan atau keberpihakan pemerintah, parpol atau pun LSM terhadap buruh. Kedua, tidak adanya kepastian yang jelas berapa lama atau waktu kerja seorang buruh. Mungkin seorang buruh dikontrak dalam jangka waktu 5 tahun namun dalam prakteknya, belum genap 5 tahun terkadang buruh sudah di PHK. Ketiga, tidak adanya pesangon atau tunjangan yang diberikan oleh pemimpin perusahaan kepada para buruh. Maka dapat dikatakan bahwa jika hubungan kerja telah terputus dengan PHK, maka sejak itu pula hubungan buruh dengan perusahaan selesai, dan tanpa tunjangan apa pun.

Mereka kaum buruh, mereka yang ditindas, mereka yang tidak ada perlindungan, mereka berdiri sendiri, mereka memilih buruh karena itu bukan pilihan, namun karena tidak adanya pilihan yang lain, mereka adala mesin kerja, mesin canggih yang dieksploitasi tanpa henti, tanpa gaji, tanpa pesangon, dan hanya mendapatkan upah yang minim, dan menurut saya itulah definisi dari seorang buruh.

* * * * *

Minangkabau, Intelektual yang Terputus

•Januari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Saya pernah membaca bahwa artikulasi dari sebuah Intelektual bukan saja orang-orang yang telah melewati tahap-tahap akademis, dengan jenjang pendidikan yang legal. Namun Intelektual yang dimaksutkan di sini adalah sebuah golongan dengan sebuah ide-ide pembaharuan, tanpa ikatan suatu status. Apakah ia adalah seorang seniman, artis, politikus, dokter, guru, dan sebagainya, asalkan ia mempunyai ide-ide pembaharuan maka ia sudah dapat di golongkan sebagai Intelektual.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kriteria seorang Intelektual bukan hanya sebuah simbolis semata, namun Intelektual yang dimaksutkan disini adalah Intelektual yang diakui melaui ide-ide mereka dan karya mereka. Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengambil perbandingan anatara proporsisi Intelektual pada abad ke-18 di Minangkabau, dengan perbandingan proporsisi Intelektual pada Era Kontemporer di Sumatera Barat.

Intelektual di Minangkabau pada abad ke-18 menurut saya adalah sebuah gerakan pemikiran yang didasari oleh pengalaman belajar, tanpa naungan dari birokrasi pendidikan yang legal. Kenapa saya mengatakan bahwa pada periode ini pendidikan dipraktekan tanpa naungan birokrasi yang legal ? Karena wujud dari pendidikan yang dijalani atau yang di praktekkan disini adalah sebuah pendidikan yang berwujud dalam sebuah tatanan hierarkis Surau. Seperti yang kita ketahui pula pada periode ini fungsi sebuah Surau sagatlah penting dan sangat menentukan didalam melahirkan sebuah generasi-generasi Intelektual Minangkabau. Surau bukan hanya sebagai rutinitas religi, namun juga surau adalah sebuah wadah pendidikan, dan tempat bergaul sesama besar.

Jiwa zaman yang tidak memungkinkan untuk belajar di lembaga yang legal, telah membentuk sebuah gerakan berupa debat-debat dan didkusi-diskusi lepas yang pada akhirnya akan menyeret kepada sebauah realita yang harus mereka hadapi dan mereka lewati. Mahalnya harga pendidikan atau masih berklakunya Rasial pendidikan terhadap masyarakat pribumi bukan berarti sebuah halangan untuk menciptakan sebuah golongan yang bodoh. Namun mahalnya sebuah institusi pendidikan malah melahirkan sebuah pendidikan liar atau semacam pendidikan terbuka yang malah melahirkan sebuah intelektual-intelektual dengan ide pemikiran yang Revolusioner.

Seperti yang telah saya sebutkan diatas bahwa jiwa zaman yang sedang berlangsung juga merupakan sebuah sprit untuk terbebas dari kebodohan. Periode jiwa zaman yang saya maksutkan disini adalah sebuah periode dimana terjadinya atau berlangsungnya sebauah pergesekan budaya dan pemikiran masyarakat Miangkabau dengan pemikiran-pemikiran luar, apakah pemikiran itu berasal dari Arab, ataupun dari Eropa. Pergesekan pemikiran ini biasanya terjadi karena dua faktor yang sangat Fundamentalis sekali. Yang pertama karena faktor Budaya, dimana seperti yang telah kita ketahui bahwa tidak pernah ada ruang bagi seorang laki-laki didalam Rumah gadang (laki-laki dewasa tidak boleh menenpati rumah gadang). Adanya prasyarat demikian yang berlaku di Minagkabau mengharuskan seorang laki-laki itu sendiri untuk merantau. Adapun modal yang mereka bawa untuk merantau adalah pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan dari Surau, dan disinilah peran sebuah Surau sangat menentukan bagi masyarakat Mianangkabau pada saat itu.

Faktor yang kedua, adalah faktor Religi, dimana pada sebuah rutinitas agama Islam mengharuskan seseorang untuk naik Haji bagi yang mampu. Selama masa Haji inilah bisanya terjadi sebuah pergesekan pemikiran anatara orang Minangkabau dengan masyarakat Internasional. Selain itu selama kegiatan haji mereka bukan hnaya sekedar menunaikan ibadah haji semata, namun mereka mencoba mencari guru dan belajar kepada guru tersebut, sehingga nantinya jika mereka sekembalinya dari tanah Mekkah mereka dapat menyebarkan ajaran-ajaran yang mereka dapatkan selama masa Haji.

Namun seriring dengan berjalannya waktu, saya melihat telah terjadi sebuah pergeseran didalam memaknai dan mengartikan sebuah Intelektual. Dimana Inteklektual dalam kehidupan kontemporer lebih di fokuskan kepada sebuah pembelajaran yang lebih mengarah kepada sebuah pencarian title, pangkat, penghargaan dan sebagainya. Saya melihat ini adalah sebuah pemikiran parakmatis, diamana dalam wujud Intelektual itu senditi telah terjadi sebuah kemunduran.

Faktor yang menyebabkan kemunduran yang pertama mungkin saja disebabkan karena adanya sistem kurikulum belajar yang berlaku lebih mengarah kepada teks bukan kepada konteks, yang pada akhirnya akan menyebabkan pembatasan atau penyempitan dalam sebuah pemikiran masyarakat. Pada periode ini kita akan sangat jarang sekali menemukan polemik-polemik, atau sebuah diskusi-diskusi, karena memang sistem pembelajaran yang kita sekarang ini lebih memfokuskan kepada teks, namun ketika mereka keluar dari institusi pendidikan mereka akan merasa aneh, karena konteks kehidupan bermasyarakat ayang mereka terima di Sekolah dengan di dalam masayarakat ternyata sangat berbeda dengan realitanya. Maka tidaklah heran jika umumnya orang-orang yang telah menamatkan pendidikannya di dalam sebuah institusi, akan merasa canggung ketika mereka berada di tengah-tengah masayarakat.

Seperti yang kita ketahui bahwa identitas dan image merantau yang sangat kentara pada masyarakat Minang merupakan sebuah budaya yang tidak dapat di lepas dan di tinggalkan. Dan karena budaya ini pula yang telah menyebabkan para pemikir Minang menjadi terpisah-pisah dari kampung halaman mereka sendiri demi menuntut ilmu dan menambah wawasan. Walaupun keberadaaan mereka saling berjauhan satu sama lain, seperti Hatta di Belanda, dan Tan Malaka di singapura, namun hubungan senasib dan seperjuagan telah menciptakan koneksi yang lebih bersifat persaudaraan dan satu keluarga, yang bernaung dibawah payung Minagkabau. Intensitasnya waktu dan pergolakan zaman yang terjadi tidak akan pernah akan mendorong mereka untuk mundur, namun menurut mereka hal ini adalah sebuah perjuangan yang harus dipertahankan.

* * * * *

Budaya Barat, Budaya Ideal

•Januari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada periode saat sekarang ini adalah sebuah periode pergesekan dan proses perbenturan katika budaya telah bersentuhan dengan peradaban Barat.. Esensialnya budaya orientalis yang di asumsikan sebagai identitas budaya orang Timur tidaklah selalu dapat bertahan jika budaya tersebut akan memasuki periode modern. Pada periode modern ini tidak dapat dipungkiri pula bahwa proses ini telah merobah mindset masyarakat Timur untuk berpindah kiblat kearah Barat. Sikab ambivalen masyarakat yang mengklaim bahwa budaya barat adalah budaya barbar, menurut asumsi saya itu adalah sebuah pemikiran dangkal yang sangat tidak beralasan. Disatu sisi kita telah memunafikkan wujud dari budaya yang kita kenakan. Dimana pada dasarnya masayarakat Timur sangat menolak budaya yang berbau atau berkiblat ke Barat, namun di sisi lain secara tidak langsung kita telah mempraktekkan dan mempublikasikan budaya Barat tersebut tanpa kita sadari. Tidak ada salahnya bukan, apabila kita meyakini dan megikuti arus dari budaya Barat sebagai budaya yang ideal. Bukankah pada hakekatnya proses perubahan pada suatu masyarakat telah membentuk sistem yang baru, dan pola fikir yang baru pula untuk bersifat terbuka di dalam menanggapi suatu perubahan, terutama dari segi budaya.

Budaya Barat bukanlah sebuah kesalahan, dimana semuah tumpah-ruah kealahan harus dilimpahkan kepadanya, intensitasnya budaya Barat adalah sebuah wujud dari sebuah kesetaraan yang sangat di hargai dan dijunjung tinggi. Namun sangatlah hina apabila kiranya memelihara budaya Timur dimana ketika mereka harus berjalan beringsut-ingsut dengan lutut dan mensimboliskannya sebagai sebuah kepatuhan yang diharuskan atau dipaksakan. Atau mungkin hanya menjadikan sebuah kamuflase identitas belaka. Mungkin mereka dapat berkilah bahwa ini adalah adat dan budaya mereka yang mereka anggap sakral dan sangat di junjung tinggi oleh masyarakat sekitar kiranya. Namun bukti menyatakan hal yang lain, pada praktiknya tanpa kita sadari kita telah mempraktekkan budaya Barat didalam kehidupan sehari-hari.

Subtansial yang ingin dibicarakan disini bukanlah untuk melahirkan sebuah pertentangan. Namun pada dasarnya saya akan mengajak anda kepada sebuah penilaian, seberapa kuatkah budaya orientalis akan tetap bertahan pada periode kontemporer ini? Secara hierarkis didalam masyarakat modern kita akan jarang sekali atau sangat sulit untuk menemukan sebuah praktik-praktik budaya Timur di dalam kehidupan masyarakat keseharian. Namun apa yang akan kita ketemukan pada saat sekarang ini adalah sebuah cover dari budaya Timur namun subtansinya adalah budaya Barat. Maksutnya disini adalah ketika kita mempraktikkan sebuah budaya Timur, namun pada metodenya kita menggunakan jargon Barat. Dan saya rasa ini adalah sangat salah kaprah sekali dimana ada dua wujud kebudayaan pada masyarakat pada saat ini.

Saya rasa yang diperlukan di sini adalah sebuah pemisahan yang sangat jelas, dimana jika suatu masyarakat ingin mengamalkan budaya yang bersifat orientalis maka didalam metodenya juga harus menggunakan pendekatan budaya Timur, bukannya pendekatan dengan budaya Barat. Namun tidak dapat pula saya menjamin jika didalam puritanisme (pemurnian) budaya pada wujud yang kita anggap akan melahirkan budaya ideal, belum tentu dapat bertahan selamanya. Dimana saya melihat proses Globalisasi yang begitu deras dan kuat nantinya malah akan membawa sebuah perubahan atau wujud yang baru pada budaya tersebut. Seperti yang kita pahami pada dasarnya Globalisasi itu sendiri telah menginfluence mindset (pola fikir) masyarakat didalam memahami dan menafsirkannya budaya Barat sebagai budaya yang ideal.

Kesimpulannya adalah penilaian suatu budaya dan menimbangnya apakah budaya Barat itu layak atau tidak, saya rasa perlu dipertimbangkan kembali. Kerena pada perjalanannya kita akan melakukan sebuah proses evolusi, dimana pada awalnya kita berkiblat pada orientalis namun secara kebutuhan dan tuntutan hidup kita akan berpindah jargon ke budaya Barat. Sangat salah kaprah bila kita menilai budaya Barat sebagai budaya yang barbar jika kita hanya memperhatikan pada subtansi dari luarnya saja. Bukankah pada dasarnya budaya Barat itu sendiri menjunjung tinggi suatu paham kebebasan dan kesetaraan.

Bukanlah berarti pula bahwa budaya Timur adalah sebuah budaya yang kolot, namun saya berharap bahwa dengan adanya tulisan ini setidak-tidaknya bisa dijadikan sebuah pengantar untuk menuju budaya Barat yang ideal. Selain itu perlunya puritanisme (pemurnian) budaya saya rasa juga sangat di butuhkan, karena pada periode Globalisasi ini kita di tuntut untuk menentukan pilihan, mengarah kepada budaya Barat atau budaya Timur? Namun bukannya memilih Dualisme budaya yang berwujud ganda yang akhirnya akan melahirkan sebuah salah penafsiran diadalam menyikapi budaya tersebut.

Golput adalah Pilihan

•Januari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Akhir-akhir ini minat pemilih pada Pemilu dan Pilakada di Indonesia mengalami penurunan yang sangat tajam. Sikap apatis atau golput pada Pemilu yang akan datang saya rasa bukanlah di latarbelakangi oleh alasan-alasan kasik seperti, janji-janji yang tidak terpenuhi, tidak adanya perubahan, sikap tidak percaya, dan sebagainya. Dan menurut saya akar masalahnya bukan berputar pada masalah yang demikian, namun ada suatu dilema-dilema yang telah mengakar pada masyarakat itu sendiri. Lalu apa masalahnya sehingga Golput menjadi sebuah pilihan bagi masyarakat Indonesia yang katanya menjunjung nilai-nilai demokrasi?

Akar permasalahan kenapa Golput dapat meningkat tajam, menurut asumsi saya hal ini dikarenakan para calon atau kandidat (the next leader) yang akan maju ke Pemilu 2009 nantinya adalah pemain-pemain lama yang sepak terjang mereka sudah dapat di terka dan dibaca oleh masyarakat Indonesia, dengan adanya pemain-pemain lama ini tentunya akan melahirkan sebuah perasaan jemu. Dimana masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini adalah sebuah masyarakat yang sudah mulai kritis didalam menanggapi dilema-dilema yang sedang berlangsung, terutama dalam permasalahan pemilihan pemimpin selanjutnya. Tidak adanya regenerasi pemimpin yang menyebabkan munculnya pemain-pemain lama pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah tidak adanya generasi muda yang mampu untuk memimpin, atau hal ini dikarenakan oleh para pemimpin tua yang belum bisa mempercayai sepenuhnya untuk mewariskan tampuk kepemimpinan kepada generasi muda.

Kembali lagi kepada permasalahan kejemuan masyarakat Indonesia kepada pemain lama, hal ini mungkin dikarenakan didalam perkembangannya mereka tidak pernah menjadi agent of change namun mereka lebih memilih mengambil sikap atau kebijakan untuk bertahan. Dimana tidak adanya pembaharuan dan sebuah gebrakan baru, namun mereka masih percaya pada spirit dan mindset mereka yang lama.

    Perebutan Generasi

Yang muda belum mampu, dan yang tua tidak tau diri. Saya rasa itulah yang sedang dialami oleh bangsa ini, dimana pertentangan antara golongan tua dengan golongan muda tidak pernah usai. Apakah ini adalah benih-benih kebencian dari masa Orde Lama, atau mereka yang tidak mau belajar dari sejarah?

Belum lama ini muncul sebuah perdebatan-perdebatan yang dapat dikatakan memanas, dimana pada perdebatan tersebut sering kali dipertanyakan kelayakan kepemimpinan kaum tua yang berpengalaman namun lamban didalam mengambil keputusan berhadapan dengan dengan kepemimpinan kaum muda yang agresif namun dinilai belum mampu untuk menjadi the next leader.

Sebagian orang mungkin berasumsi bahwa bermunculannya para kandidat yang mengusung nama atau golongan kaum muda tentunya tidak terlepas dari pengaruh Obamaisme yang menginfluece seluruh dunia. Dimana sosok Obama yang energik dengan usia yang muda sudah siap untuk menjadi Presiden Amerika. Namun permasalahannya sekarang ini adalah bukan hanya terletak pada zeitgeist (jiwa zaman), tapi ada perbedaan yang sangat fundementalis antara calon pemimpin yang berjargon generasi muda dengan Obama. Kenyataanya Obama memiliki sebuah prasyrat yang lengkap untuk menjadi seorang presiden Amerika, dan ia sudah sangat matang untuk hal ini. Berkharismatik, memiliki sebuah gebrakan, enrgik, progresif, serta mempunyai kemampuan untuk memimpin, dan itu memang dikuasai betul oleh Obama.

Namun lain halnya dengan para kandidat muda yang ingin mencoba kue kepemimpinan Indonesia, mereka belum mempunyai pengalaman yang kuat, kurang berkharismatik, sehingga masyarakat belum begitu mengenal mereka, dan kemampuan mereka masih diragukan untuk menjadi pemimpin, walaupun mereka mempunyai semangat yang energik, namun perbandingan nilainya adalah 1:3 dan menurut saya perbandingan ini sangat tidak berimbang sekali. Maka tidaklah salah jika sebagian orang berasumsi bahwa menjamurnya generasi muda yang ingin menjadi the next leader tidak lebih hanya dipengaruhi oleh zeitgeist yang di bawa oleh Obama.

Adanya pandangan sebelah mata terhadap generasi muda yang maju pada Pemilu 2009 nanti, saya rasa sangatlah salah apabila semua masalah carut marut ini harus ditumpahkan seluruhnya kepada generasi muda. Namun permasalahan kenapa bangsa ini tidak pernah lepas dari kutukan kesengsaraan, saya rasa hal ini juga tidak terlepas dari peranan generasi tua yang merasa diri mereka sangat berpengalaman, namun didalam praktiknya untuk mengambil sebuah langkah yang baru atau kebijakan yang baru mereka tidak lebih dari seekor kura-kura. Mereka masih takut untuk melangkah lebih jauh sehingga dalam perkembangannya selama masa kepemimpinan generasi tua di Indonesia tidak ada sebuah pembaharuan dan sebuah gebrakan.

Maka jika kita kembali lagi kenapa sikap apatis atau Golput itu bisa meningkat, saya rasa dilatar belakangi oleh beberapa faktor. Pertama, mayarakat Indonesia pada saat sekarang ini sudah sangat kritis didalam mengganalisa dan menghadapi masalah. Kedua, para kandidat yang akan menjadi the next leader pada Pemilu 2009 nanti, umumnya didominasi oleh pemain-pemain lama. Ketiga pertarungan politik mengenai kelayakan kaum muda dengan kaum tua yang semakin tajam yang tidak kunjung usai telah melahirkan suatu kejemuan terhadap sistem dari bangsa ini, yang pada akhirnya akan melahirkan pertanyaan, kita ini di bentuk sistem atau kita yang akan membentuk sistem?

* * * * *

PROPAGANDA BUDAYA MINANGKABAU DAN BAYANGAN UTOPIS

•Januari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Adanya spirit bereforia telah melahirkan sebuah lapisan sosial yang sibuk dengan fantasi sesaat untuk mengenang kejayaan Minangkabau sebagai etnis budaya yang besar pada masa tempo dulu. Selain itu diperkuat pula dengan adanya asumsi bahwa budaya Minangkabau adalah budaya tertinggi karena menurut mereka budaya Minangkabau adalah sebuah budaya yang ideal dalam pandangan masayarakat Minang itu sendiri.

Namun relitanya apa yang telah kita bangga-banggakan dan apa yang telah kita usahakan semuanya hanyalah mimpi yang pada akhirnya akan berubah menjadi sebuah utopis yang akan berpulang kepada kita kembali, dan itulah yang terjadi sekarang pada budaya Minangkabau yang selalu kita banggakan walau terkadang kita tidak pernah tahu makna dan artikulasi budaya Minangkabau bagi masyarakat Minang kontemporer. Keinginan untuk merevivalisasi budaya Minangkabau itu memang ada, walaupun pada nyatanya kita hanya terperangkap pada lingkaran dan tujuan yang tidak jelas juntrungannya.

Mungkin terkadang kita pernah sadar bahwa ada batasan-batasan yang tidak dapat di lewati yang pada akhirnya akan menghambat tujuan kita untuk membangkitkan kenangan kejayaan Minangkabau yang berlandaskan kepada Adat dan Islam. Batasan tersebut tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri, dimana kita yang hanya fun dengan budaya Minang namun kita tidak pernah tahu bagai mana cara untuk merespon dan mengaplikasikan kembali kejayaan budaya Minang kedalam masyarakat Minang kontemporer dalam artian merekonstruksi ulang.

Perlu kita ketahui bahwa Minang dahulu dengan Minang sekarang sangat jauh berbeda, dan benang merah itu memang kentara sekali. Minagkabau pada masa tempo dulu adalah sebuah aktivitas masyarakat yang ditata oleh pola pemikiran yang ideal yang berlandaskan kepada Islam dan Adat. Namun “lain padang lain ilang, lain lubuak lain ikannyo”, masayarakat Minang kontemporer mempunyai ciri khas tersendiri didalam menentukan keberlanjutan aktivitas mereka. dimana pada periode masyarakat Minang kontemporer adalah sebuah aktivitas masyarakat yang dipengaruhi emosi zaman dan tuntutan paham mendunia yang dikenal dengan Era Globalisasi, dengan kata lain masyarakat Minang kontemporer adalah masyarakat yang sedang menuju kepada masyarakat Universal.

Adanya atau banyaknya pengetahuan yang telah meng-influence telah melahirkan sinkronisasi yang sangat rumit. Masyarakat Minangkabau kontemporer adalah sebuah gerakan yang mencoba terus maju dan mencoba untuk menembus batas-batas kesetaraan yang berawal dari pengaruh globalisasi itu sendiri. Walaupun pada akhirnya yang akan diterima sebuah pengikisan dan kehilangan budaya yang esensial dari budaya Minangkabau, namun konsep ini adalah sebuah dilema yang harus diterima dari konsepsi global yang dianut masyarakat Minang kontemporer. Dan hal ini tentunya adalah sebuah keharusan untuk mencapai sebuah identitas yang baru dan untuk lepas dari bayang-bayang fanatisme yang telah menjadi darah daging bagi mayarakat Minang.

Menurut saya desakan global atas budaya Minang adalah sebuah imajiner yang harus diaplikasikan pada budaya Minang itu sendiri, dengan harapan akan munculnya kepermukaan hal-hal yang positif dalam artian masyarakat Minang gaya baru yang awalnya hanya bertahan kemudian telah berubah menjadi sebuah kemajuan dalam artian yang ideal bagi masyarkat Minang kontemporer. Karena pada dasarnya budaya yang hanya bertahan umumnya lebih cendrung bersifat pasif dan berjalan ditempat, tampa mempunyai tujuan-tujuan yang pasti.

Untuk menjadi orang Minang ideal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer diperlukan sebuah pola pemikiran dan gaya yang jelas terhadap sebuah perubahan yang akan ditempuh bersama. Hal ini bukan saja sebuah keharusan yang harus diterima atas konsesi yang mereka ambil, namun ini adalah sebuah rasa kecintaan yang berlandasan kepada emosi sezaman yang telah membentuk sebuah entry yang solit, prima dan ideal.

Bayang-bayang fanatisme yang masih menjadi basic image telah menjadi sebuah kontroversial yang tidak terbantahkan, dalam artian asumsi dan pandangan khalayak yang telah mendarah daging. Walaupun pada hakikatnya tidak pernah ada larangan untuk menginterprestasi pendapat mereka, namun adanya batasan pada pemikiran manusia sangat perlu untuk di delegitimasi atas paham-paham yang mereka anut. Masalahnya adalah apakah semua yang telah kita rencanakan akan menjadi sebuah hasil atau tujuan yang jelas untuk melahirkan masyarakat Minang kontemporer yang ideal hanya dengan berpijakan kepada emosial zaman. Atau semua ini hanya sebuah propaganda yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah bayangan masyarakat utopis atas konsesi kegagalan didalam menciptakan masayarakat Minang kontempor yang ideal. Karena seperti yang telah jabarkan diatas bahwa ada batasan-batasan yang sulit untuk ditembus hanya dengan spirit bereforia, namun juga diperlukan sebuah kesabaran yang sangat terkontrol.

Selain itu dampak dari globalisasi tidaklah sepenuhnya bembawa angin segar, namun terkadang globalisasi adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi masyarakat Minang kontemporer itu sendiri. Jika demikian adanya maka sudah tentu diperlukan sebuah pengkritisan sebagai bagian dari pola filterisasi. Serta mereka juga harus mengambil sebuah kebijakan yang berani dimana adanya sebuah pertaruhan atas keutuhan budaya Minangkabau itu sendiri. Selain itu adanya sikap fanatisme yang terlalu berlebihan juga dapat melahirkan sifat anarkisme ke permukaan yang akan menambah deretan antrian masalah.

PEMILIHAN CALEG, SEBUAH AJANG TARUHAN

•Januari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Awal periode 2009 adalah periode yang sangat sibuk bagi masyarakat Indonesia, hal ini dikarenakan pada awal tahun 2009 adalah sebuah periode kompetisi yang memanas. Dimana kita akan melihat makin banyaknya calon-calon leader yang muncul ke permukaan, namun masyarakat semakin apatis terhadap pemilu itu sendiri (Golput). Saya melihat disini bahwa yang menjadi latar belakang kenapa masyarakat Indonesia lebih banyak golput dikarenakan mindset (pola fikir) masyarakat Indonesia telah bertranformasi menjadi pola fikir yang kritis di dalam menganalisa suatu masalah, terutama sekali pada permasalahan pemilu. Dalam artian masyarakat Indonesia menganggap golput sebagai sebuah pilihan, ketika masyarakat telah jemu dengan pemilu-pemilu semu yang hanya menghasilkan leader bobrok.

Terlepas dari banyaknya masyarakat Indonesia yang golput, saya melihat bahwa pada pemilihan caleg (calon legislatif) sebagai sebuah ajang pertaruhan. Kenapa saya mengatakan pemilihan caleg sebagai sebuah ajang taruhan? Hal ini didasari ketika saya melihat sebuah partai yang bisa dibilang besar malah mengusung caleg mereka hingga 27 caleg dalam satu tubuh partai. Hal ini terasa sangat janggal sekali di dalam pandangan saya, dimana ketika golput menjadi sebuah permasalahan yang sangat urgen, namun calon leader yang muncul kepermukaan malah semakin menjamur.

Mungkin terkadang kita merasa pesimis, apakah dengan banyaknya caleg yang muncul akan membawa sebuah perubahan yang berarti, atau hanya sebuah aktifitas jalan ditempat saja? Memang benar bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak untuk mengajukan dirinya sebagai seorang pemimpin, namun bukan berarti bahwa setiap orang yang merasa dirinya kaya dan kuat dalam sektor financial dapat menjadi seorang caleg. Bahwa pada dasarnya untuk menjadi seorang leader atau pun caleg yang dibutuhkan bukan hanya kekayaan ataupun tim sukses yang solit, yang dibutuhkan adalah mereka yang kompetitif, inovasi, punya gebrakan, dan berpengalaman didalam memimpin.

Di dalam kenyataannya saya melihat bahwa yang menjadi pemimpin pada saat sekarang ini adalah para leader yang terangkat oleh dukungan tim sukses yang kuat, dan tentunya dengan penyuplaian financial yang lebih. Jadi dapat diartikan bahwa ketika masyarakat memilih salah seorang caleg, pada dasarnya mereka memilih caleg karena masyarakat termakan oleh kata-kata tim sukses dari caleg tersebut, bukannya berdasarkan kemampuan kompetitif dari caleg tersebut. Yang pada akhirnya ketika para caleg tersebut terpilih menjadi seorang legislatif ia malah lupa akan kepercayaan masyarakat yang telah memilihnya, dan seharusnya ini bisa menjadi sebuah pelajaran buat kita dan bukannya menjadi sebuah lingkaran setan yang mengurung masyarakat kedalam kebohongan-kebohongan publik.

Jika demikian realitanya maka bukan berarti bahwa yang mempunyai finansial kuat saja yang diperbolehkan untuk maju kedalam pemilihan caleg. Masih ada masyarakat dari kalangan “kere” yang maju sebagai caleg pada tahun 2009, dan ini membuktikan bahwa pemilihan caleg bukan hanya permainan kaum elit saja namun masyarakat kelas bawah juga ingin berkompetisi. Yang menjadi permasalahan adalah bukan masalah si kaya atau pun masalah si miskin, namun yang menjadi problem di sini adalah, apakah mereka mempunyai kemampuan yang kompetitif di dalam menjadi seorang leader? Karena jika seseorang hanya bertopang pada kekuatan financial maka dapat ditafsirkan itu sebagai sebuah strategi penjualan suara saja. Sedangkan jika kita hanya bertopang pada semangat maka dapat diartikan itu sebagai bayang-bayang utopis yang tanpa dilandasi sebuah praktik yang nyata. Lalu benih mana yang akan berhasil, benih yang ditanam dengan dukungan financial, atau benih yang ditanam dengan semangat dan harapan saja?

Lalu apa yang menjadikan pemilihan caleg sebagai sebuah ajang taruhan? Ibarat sebuah judi, pemilihan caleg adalah sebuah pemilihan yang berdasarkan untung-untungan, dan bukanlah bedasarkan sebuah pertarungan yang kopetitif. Di sini ada sector financial yang dipertaruhkan, dan itu tidak sedikit jumlahnya. Maka ketika telah jelas siapa yang menang dan yang kalah, terkadang depresi yang berat tidak dapat dihindarkan oleh yang kalah, karena mereka telah mempertaruhkan segalanya. Dan itulah yang terjadi sekarang pada pemilihan caleg di Indonesia sekarang.

Mungkin inilah wujud dari demokrasi bangsa Indonesia saat sekarang ini, ketika kemampuan kompetitif seorang leader sangat sulit untuk ditemukan, namun para calon leader dengan decking-an tim sukses yang solit malah laris manis didalam kancah politik Indonesia. Labelnya memang betul sebuah pemilu sebagai syarat Negara yang berdemokrasi dengan iming-iming pemilu yang terbuka, jujur dan bersih, namun kapasitas yang ada didalamnya murni sebuah taruhan dan perdagangan kepercayaan masyarakat.

Intensitasnya adalah ketika masyarakat semakin apatis dengan pemilu, calon leader yang muncul ke permukaan malah semakin menjamur dan ini tentunya berbanding terbalik dengan realita yang harus diterima. Namun yang menjadi perhatian utama apakah dengan banyaknya calon leader yang muncul kepermukaan mempunyai sebuah daya kompetitif yang memadai dan hingga pada akhirnya akan melahirkan sebuah perubahan dan bukannya terperangkap dalam lingkaran setan yang tidak pernah usai.

* * * * * *

Percepat BHP

•Januari 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Percepat BHP

Belum lama ini marak sekali dibicarakan mengenai masalah pro dan kontra akan di berlakukannya sistem BHP pada seluruh universitas di Indonesia. Terlepas dari layak atau tidaknya sistem BHP tersebut marilah kita mencoba menganalisa seberapa besar dampak dan pengaruh dari BHP itu sendiri terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Apakah benar BHP adalah sebuah kapitalisme dan sebuah ajang perdagangan di dalam tubuh pendidikan?

Dalam pandangan saya tidak seluruhnya bahwa BHP adalah sebuah sistem yang buruk dan identik dengan sebuah perdagangan didalam tubuh pendidikan. Kesan pertama yang dilihat oleh masyarakat bahwa setiap Universitas yang menganut sistem BHP, yang pastinya biaya kuliah akan menjadi mahal atau diatas standar. Namun jika kita melihat pada kualitasnya bahwa BHP telah melahirkan sebuah Universitas yang sangat kompetitif, Universitas Indonesia (UI) adalah salah satu produk BHP yang menurut saya cukup sukses didalam menjalankan sistemnya. Dimana saya melihat bahwa UI sudah dapat dikatakan sebagai Universitas berstandar nasional, namun masalah mahalnya biaya kuliah menurut saya itu adalah masalah yang klasik dan sangat berimbang, jika kita menginginkan sebuah kualitas yang baik maka kita harus “merongoh” saku lebih dalam, karena pada dasarnya pendidikan itu bukanlah hal yang murah harganya.

Jika kita perbandingkan dengan mahalnya biaya pendidikan yang menganut sistem BHP dengan spirit mahasiswa itu sendiri terhadap pendidikan, saya melihat ada sebuah realita yang berbanding terbalik. Dimana kita melihat bahwa pada dasarnya biaya pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan biaya pendidikan di luar negri dirasa masih cukup murah. Pada realitanya harga pendidikan yang murah di Indonesia bukanya menciptakan sebuah lapiasan pelajar yang kompetitif dan idealis, namun malah menciptakan pelajar-pelajar yang malas. Dan tentunya realita tersebut tidak dapat kita bantah bahwa hanya segelintir saja dari Mahasiswa yang betul-betul menghargai dan menikmati pendidikan sebagai sebuah paket yang murah, dan sisanya mereka adalah generasi yang malas yang hanya akan menunggu peruntungan yang akan merobah nasip mereka. Berangkat dari kepesimisan saya terhadap mahasiswa sekarang ini maka saya mengasumsikan agar sistem BHP sesegera mungkin dilaksanakan.

Lalu yang menjadi permasalahan sekarang adalah dengan diberlakukannya sistem BHP apakah akan menjadi penghalang bagi Mahasiswa yang kurang mampu? Jika kita melihat pada tingkatan ekonomi masyarakat Indonesia pada realitanya bahwa tingkatan ekonomi masyarakat Indonesia adalah lebih dominan kepada tingkatan ekonomi menengah ke bawah, dan jika memang sistem BHP akan dilaksanakan, secara otomatis akan menjadi penghalang, dimana biaya pendidikan di Universitas akan terasa semakin mencekik. Untuk mengatasi permasalahan yang demikian saya mengasumsikan bahwa seharusnya pemerintah mempunyai alternative untuk mengatasi masalah mahalnya biaya pendidikan bagi Mahasiswa yang kurang mampu, salah satunya adalah dengan memperluas anggaran beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi dan mempersempit bantuan bagi mahasiswa yang kurang berprestasi.

Jika kita melihat pada sejarah, pada dasarnya ada persamaan antara sistem BHP dengan pendidikan di Indonesia pada abad ke-18, dimana pada masa itu harga pendidikan dirasa sangat mahal sekali, dan pendidikan hanya di peruntukkan bagi anak-anak Eropa dan Timur asing, sedangkan untuk anak Pribumi mereka hanya mendapatkan pendidikan dasar yang pada akhirnya hanya menjadikan mereka sebagai kuli atau buruh. Mungkin hanya mimpi bagi seorang anak Pribumi yang kepintarannya standar untuk memasuki jenjang pendidikan tertinggi, karena pada saat itu selain factor finansial yang kuat, inteligensia yang diatas rata-rata juga patut diperhitungkan. Kita ambil contoh saja Tan Malaka, beliau yang berlatarbelakang sebagai keluarga yang miskin, namun karena kepintarannya beliau mampu menembus tes untuk memasuki Sekolah Rajo yang pada saat itu dianggap sebagai sekolah yang cukup bergengsi di Minangkabau.

Intensitanya adalah, dengan diberlakukannya sistem BHP akan melahirkan sebuah pendidikan yang berstandar Nasional dan kompetitif. Dimana adanya penekanan subsidi pada sektor pendidikan, namun ruang lingkup pendidikan itu sendiri di perluas dengan persaingan yang sangat ketat, salah satunya adalah dengan tes-tes bagi mahasiswa yang berprestasi. Jadi di dalam pemikiran saya bahwasanya harga pendidikan itu bukanlah murah, dan usaha kitalah untuk mendapatkan pendidikan itu sendiri, karena dengan diberlakukannya sistem BHP secara otomatis akan menekan kapasitas mahasiswa yang “berleha-leha” di dalam menuntut ilmu. Mungkin sebagian orang akan menganggap bahwa sistem BHP itu sangat identik dengan perdagangan di dalam dunia pendidikan, namun jika kita melihat kepada realitanya bahwa sprit mahasiswa untuk menuntut ilmu secara serius menurut saya itu hannya utopis belaka. Namun perlu digaris bawahi bahwa dengan adanya sistem BHP pemerintah harus memperluas ruang lingkup beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi, sehingga bagi mahasiswa yang kurang mampu namun berprestasi dapat tetap melanjutkan pendidikannya, namun bagi mahasiswa yang “kere” namun kurang berprestasi akan tersingkirkan, hal ini dapat diibaratkan dengan seleksi alam di dalam dunia pendidikan. Yang berprestasi akan bertahan, dan yang tidak berprestasi akan tersingkirkan.

* * * * *

AMERIKA BUBAR

•Desember 26, 2008 • 1 Komentar

Amerika akan runtuh, Negara Super Power ini akan bubar setelah krisis global menghantam Negara adidaya ini. Mungkin tidak sampai 20 puluh tahun kedepan, suatu hari sejarah akan bercerita tentang sebuah Negara adidaya, yang diakhir peradabannya harus menderita penyakit yang kronis dan dibenci oleh banyak Negara karena kebijakan luar negrinya yang terlalu vokal. Amerika seperti orang tua yang sudah renta yang mengidap Post Power Syndrom, akan sangat sulit bagi Negara Paman Sam ini untuk menuai masa keemasannya kembali. Dan inilah akhir dari sebuah peradaban yang maju.

Sepertinya memang benar Amerika akan benar-benar akan bangkrut, perisai terkuatnya pada sektor Ekonomi dan Militer telah mulai memudar, setelah krisis AS yang begitu dahsyat. Apakah ini karma bagi AS atas kebijakan-kebijakan luar negrinya yang terlalu vocal ? Dimana ketika banyak Negara menuduh AS sebagai biang keladi dari krisis global ini. Atau ini adalah sebauah pergeseran kekuatan ? Ketika Amerika bukan lagi kiblat Negara adidaya, Negara-negara Asia seolah-olah mendapatkan tempat yang layak, Asia maju dan optimis dengan sentral manufactur dan jasa mereka.

Di usia yang sudah tidak muda lagi Amerika terlalu optimis untuk menjadi obor dunia. Pasca keruntuhan Uni Soviet, Amerika mencicipi manisnya kue kemenangan dan nikmatnya kekuasaan. Mungkin ada yang beranggapan bahwa Amerika adalah sebuah Negara yang terlahir dengan keistimewaan, sistem ekonomi yang kuat, demokrasi yang solit, dan teknologi yang canggih. Itulah kebanggan rakyat Amerika.

Kebijakan luar Negri Amerika yang begitu vocal pada wilayah Timur Tengah adalah sebuah konflik, dimana Amerika harus mengorbankan dana yang tidak sedikit hanya dengan alasan menciptakan kestabilan di Timur Tengah. Dengan kekuatan finansialnya Amerika yakin dapat menciptakan sebuah kedamaian di Timur Tengah. Ekonomi Amerika yang menghasilkan seperempat produk dunia bruto dan belanja pertahanan yang setara dengan penggabungan tujuh Negara dibawahnya. Namun kedamaian seperti apa yang ingin diciptakan Amerika ? Sebuah penindasan, atau sebuah pemerkosaan hak-hak masyarakat sipil di wilayah Timur Tengah ?

Konflik yang terjadi di Irak dan di Negara Timur Tengah lainnya bukanlah sebuah kedamaiaan, namun sebuah politik campur tangan Amerika yang terlalu dalam sehingga melahirkan sebuah gerakan-gerakan anarkis yang berujung pada insiden WTC. Kebijakan luar negri Amerika di Timur Tengah yang tidak tuntas dengan kedok kemanusiaan malah menciptakan sebuah konflik baru bagi Negara-negara yang didikte oleh Amerika. Dimana Negara-negara ini menjadi sebuah basis teroris ketika keamanan dan kestabilitas umum yang telah terlanjur dibuncah oleh Amerika tidak tuntas.

Seharusnya Amerika sadar bahwa sekarang mereka tidak sepopuler dan sekuat yang mereka kira. Amerika harusnya sadar bahwa mereka adalah sebuah Negara tua yang terseok-seok menunggu ajalnya. Pasca peristiwa 11 September, reaksi dunia internasional tehadap serangan ini telah memperjelas ditingkat mana banyak orang di luar Amerika sebenarnya bersikap ambivalen mengenai posisi Amerika di mata dunia.

Konflik yang tidak terselesaikan yang telah dimainkan oleh Amerika adalah sebuah bahaya yang potensial. Konflik-konflik ini telah menyebabkan benih-benih dendam dan benih-benih kebencian tumbuh subur pada Negara yang tidak tuntas penanganannya, dan telah melahirkan sebuah gerombolan yang ingin mengobarkan perang, serta memperkuat pemimpin yang bertindak semena-mena karena adanya suasana ketakutan yang ditimbulkan oleh konflik. Kondisi-kondisi tersebut telah menciptakan sebuah lahan yang subur bagi orang-orang yang bersedia terlibat dalam terror massal.

Realitanya, teroris yang ingin disingkirkan oleh Amerika adalah produk-produk dari konflik yang ia ciptakan sendiri. Seperti konflik di Afganistan, Kashmir, Tepi Barat, dan Jalur Gaza, adalah wilayah-wilayah konflik yang tidak pernah terselesaikan oleh Amerika. Setelah mengobrak-abrik sebuah Negara, dan lalu seakan-akan Amerika berusaha mencuci tangan dan merasa dirinya adalah orang yang suci. Menurut asumsi saya Amerika adalah Negara yang mengobarkan perang pada Negara-negara Timur Tengah, bukan teroris yang mengobarkan perang kepada Amerika. Karena teroris tercipta dari politik luar negri Amerika yang tidak tuntas dan meninggalkan benih-benih kebencian pada Negara yang tidak tuntas tersbut.

Francis Fukuyama meramalkan bahwa “Abad yang mulai bergulir dengan penuh kepercayaan diri pada kemenangan pamungkas demokrasi liberal barat ini pada ujungnya kembali sepenuhnya pada titik awal”. Demikianlah yang akan terjadi pada Amerika ketika Negara Paman Sam ini harus memulai dari awal lagi. Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa puncak dari sebuah peradaban adalah sebuah kehancuran, dan sepertinya memang demikianlah yang akan dihadapi Amerika. Coba kita melihat sejarah, bagaimana Yunani dan Romawi sebagai Negara yang maju harus runtuh dan terpecah-pecah. Bukankah sejarah telah bercerita bagaimana Glasnost dan Pestroika pecah di Rusia yang menyebabkan Uni Soviet harus bubar dan memulai dari awal dengan identitas Rusia.

Seharusnya kita belajar dari sejarah kekuasaan. Ketika sebuah Negara yang berperadaban maju pada akhirnya akan terhenti oleh perpecahan, apakah dari sektor keaman maupun dari sektor ekonomi. Sejarah akan terulang kembali ketika Amerika merasa sangat optimis untuk menjadi the leader of the world. Riwayat Amerika akan tamat, dan sejarah akan mencatat kembali sebagai Negara yang tidak mau belajar dari sejarah bangsa lain. Intensitasnya apun usaha yang akan dilakukan oleh Masyarakat Amerika, Politisi Amerika, dan Pemimpin Amerika akan sangat sulit untuk menghidupkan obor kejayaan Amerika, karena keruntuhan Amerika sudah didepan mata.

beschaafd

•Juli 24, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

PROPAGANDA BUDAYA MINANGKABAU DAN BAYANGAN UTOPIS

Oleh : TJAHAJATIMOER

Adanya spirit bereforia telah melahirkan sebuah lapisan sosial yang sibuk dengan fantasi sesaat untuk mengenang kejayaan Minangkabau sebagai etnis budaya yang besar pada masa tempo dulu. Selain itu diperkuat pula dengan adanya asumsi bahwa budaya Minangkabau adalah budaya tertinggi karena menurut mereka budaya Minangkabau adalah sebuah budaya yang ideal dalam pandangan masayarakat Minang itu sendiri.

Namun relitanya apa yang telah kita bangga-banggakan dan apa yang telah kita usahakan semuanya hanyalah mimpi yang pada akhirnya akan berubah menjadi sebuah utopis yang akan berpulang kepada kita kembali, dan itulah yang terjadi sekarang pada budaya Minangkabau yang selalu kita banggakan walau terkadang kita tidak pernah tahu makna dan artikulasi budaya Minangkabau bagi masyarakat Minang kontemporer. Keinginan untuk merevivalisasi budaya Minangkabau itu memang ada, walaupun pada nyatanya kita hanya terperangkap pada lingkaran dan tujuan yang tidak jelas juntrungannya.

Mungkin terkadang kita pernah sadar bahwa ada batasan-batasan yang tidak dapat di lewati yang pada akhirnya akan menghambat tujuan kita untuk membangkitkan kenangan kejayaan Minangkabau yang berlandaskan kepada Adat dan Islam. Batasan tersebut tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri, dimana kita yang hanya fun dengan budaya Minang namun kita tidak pernah tahu bagai mana cara untuk merespon dan mengaplikasikan kembali kejayaan budaya Minang kedalam masyarakat Minang kontemporer dalam artian merekonstruksi ulang.

Perlu kita ketahui bahwa Minang dahulu dengan Minang sekarang sangat jauh berbeda, dan benang merah itu memang kentara sekali. Minagkabau pada masa tempo dulu adalah sebuah aktivitas masyarakat yang ditata oleh pola pemikiran yang ideal yang berlandaskan kepada Islam dan Adat. Namun “lain padang lain ilang, lain lubuak lain ikannyo”, masayarakat Minang kontemporer mempunyai ciri khas tersendiri didalam menentukan keberlanjutan aktivitas mereka. dimana pada periode masyarakat Minang kontemporer adalah sebuah aktivitas masyarakat yang dipengaruhi emosi zaman dan tuntutan paham mendunia yang dikenal dengan Era Globalisasi, dengan kata lain masyarakat Minang kontemporer adalah masyarakat yang sedang menuju kepada masyarakat Universal.

Adanya atau banyaknya pengetahuan yang telah meng-influence telah melahirkan sinkronisasi yang sangat rumit. Masyarakat Minangkabau kontemporer adalah sebuah gerakan yang mencoba terus maju dan mencoba untuk menembus batas-batas kesetaraan yang berawal dari pengaruh globalisasi itu sendiri. Walaupun pada akhirnya yang akan diterima sebuah pengikisan dan kehilangan budaya yang esensial dari budaya Minangkabau, namun konsep ini adalah sebuah dilema yang harus diterima dari konsepsi global yang dianut masyarakat Minang kontemporer. Dan hal ini tentunya adalah sebuah keharusan untuk mencapai sebuah identitas yang baru dan untuk lepas dari bayang-bayang fanatisme yang telah menjadi darah daging bagi mayarakat Minang.

Menurut saya desakan global atas budaya Minang adalah sebuah imajiner yang harus diaplikasikan pada budaya Minang itu sendiri, dengan harapan akan munculnya kepermukaan hal-hal yang positif dalam artian masyarakat Minang gaya baru yang awalnya hanya bertahan kemudian telah berubah menjadi sebuah kemajuan dalam artian yang ideal bagi masyarkat Minang kontemporer. Karena pada dasarnya budaya yang hanya bertahan umumnya lebih cendrung bersifat pasif dan berjalan ditempat, tampa mempunyai tujuan-tujuan yang pasti.

Untuk menjadi orang Minang ideal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer diperlukan sebuah pola pemikiran dan gaya yang jelas terhadap sebuah perubahan yang akan ditempuh bersama. Hal ini bukan saja sebuah keharusan yang harus diterima atas konsesi yang mereka ambil, namun ini adalah sebuah rasa kecintaan yang berlandasan kepada emosi sezaman yang telah membentuk sebuah entry yang solit, prima dan ideal.

Bayang-bayang fanatisme yang masih menjadi basic image telah menjadi sebuah kontroversial yang tidak terbantahkan, dalam artian asumsi dan pandangan khalayak yang telah mendarah daging. Walaupun pada hakikatnya tidak pernah ada larangan untuk menginterprestasi pendapat mereka, namun adanya batasan pada pemikiran manusia sangat perlu untuk di delegitimasi atas paham-paham yang mereka anut. Masalahnya adalah apakah semua yang telah kita rencanakan akan menjadi sebuah hasil atau tujuan yang jelas untuk melahirkan masyarakat Minang kontemporer yang ideal hanya dengan berpijakan kepada emosial zaman. Atau semua ini hanya sebuah propaganda yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah bayangan masyarakat utopis atas konsesi kegagalan didalam menciptakan masayarakat Minang kontempor yang ideal. Karena seperti yang telah jabarkan diatas bahwa ada batasan-batasan yang sulit untuk ditembus hanya dengan spirit bereforia, namun juga diperlukan sebuah kesabaran yang sangat terkontrol.

Selain itu dampak dari globalisasi tidaklah sepenuhnya bembawa angin segar, namun terkadang globalisasi adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi masyarakat Minang kontemporer itu sendiri. Jika demikian adanya maka sudah tentu diperlukan sebuah pengkritisan sebagai bagian dari pola filterisasi. Serta mereka juga harus mengambil sebuah kebijakan yang berani dimana adanya sebuah pertaruhan atas keutuhan budaya Minangkabau itu sendiri. Selain itu adanya sikap fanatisme yang terlalu berlebihan juga dapat melahirkan sifat anarkisme ke permukaan yang akan menambah deretan antrian masalah.

Hello world!

•Juli 1, 2008 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!