Golput adalah Pilihan

Akhir-akhir ini minat pemilih pada Pemilu dan Pilakada di Indonesia mengalami penurunan yang sangat tajam. Sikap apatis atau golput pada Pemilu yang akan datang saya rasa bukanlah di latarbelakangi oleh alasan-alasan kasik seperti, janji-janji yang tidak terpenuhi, tidak adanya perubahan, sikap tidak percaya, dan sebagainya. Dan menurut saya akar masalahnya bukan berputar pada masalah yang demikian, namun ada suatu dilema-dilema yang telah mengakar pada masyarakat itu sendiri. Lalu apa masalahnya sehingga Golput menjadi sebuah pilihan bagi masyarakat Indonesia yang katanya menjunjung nilai-nilai demokrasi?

Akar permasalahan kenapa Golput dapat meningkat tajam, menurut asumsi saya hal ini dikarenakan para calon atau kandidat (the next leader) yang akan maju ke Pemilu 2009 nantinya adalah pemain-pemain lama yang sepak terjang mereka sudah dapat di terka dan dibaca oleh masyarakat Indonesia, dengan adanya pemain-pemain lama ini tentunya akan melahirkan sebuah perasaan jemu. Dimana masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini adalah sebuah masyarakat yang sudah mulai kritis didalam menanggapi dilema-dilema yang sedang berlangsung, terutama dalam permasalahan pemilihan pemimpin selanjutnya. Tidak adanya regenerasi pemimpin yang menyebabkan munculnya pemain-pemain lama pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah tidak adanya generasi muda yang mampu untuk memimpin, atau hal ini dikarenakan oleh para pemimpin tua yang belum bisa mempercayai sepenuhnya untuk mewariskan tampuk kepemimpinan kepada generasi muda.

Kembali lagi kepada permasalahan kejemuan masyarakat Indonesia kepada pemain lama, hal ini mungkin dikarenakan didalam perkembangannya mereka tidak pernah menjadi agent of change namun mereka lebih memilih mengambil sikap atau kebijakan untuk bertahan. Dimana tidak adanya pembaharuan dan sebuah gebrakan baru, namun mereka masih percaya pada spirit dan mindset mereka yang lama.

    Perebutan Generasi

Yang muda belum mampu, dan yang tua tidak tau diri. Saya rasa itulah yang sedang dialami oleh bangsa ini, dimana pertentangan antara golongan tua dengan golongan muda tidak pernah usai. Apakah ini adalah benih-benih kebencian dari masa Orde Lama, atau mereka yang tidak mau belajar dari sejarah?

Belum lama ini muncul sebuah perdebatan-perdebatan yang dapat dikatakan memanas, dimana pada perdebatan tersebut sering kali dipertanyakan kelayakan kepemimpinan kaum tua yang berpengalaman namun lamban didalam mengambil keputusan berhadapan dengan dengan kepemimpinan kaum muda yang agresif namun dinilai belum mampu untuk menjadi the next leader.

Sebagian orang mungkin berasumsi bahwa bermunculannya para kandidat yang mengusung nama atau golongan kaum muda tentunya tidak terlepas dari pengaruh Obamaisme yang menginfluece seluruh dunia. Dimana sosok Obama yang energik dengan usia yang muda sudah siap untuk menjadi Presiden Amerika. Namun permasalahannya sekarang ini adalah bukan hanya terletak pada zeitgeist (jiwa zaman), tapi ada perbedaan yang sangat fundementalis antara calon pemimpin yang berjargon generasi muda dengan Obama. Kenyataanya Obama memiliki sebuah prasyrat yang lengkap untuk menjadi seorang presiden Amerika, dan ia sudah sangat matang untuk hal ini. Berkharismatik, memiliki sebuah gebrakan, enrgik, progresif, serta mempunyai kemampuan untuk memimpin, dan itu memang dikuasai betul oleh Obama.

Namun lain halnya dengan para kandidat muda yang ingin mencoba kue kepemimpinan Indonesia, mereka belum mempunyai pengalaman yang kuat, kurang berkharismatik, sehingga masyarakat belum begitu mengenal mereka, dan kemampuan mereka masih diragukan untuk menjadi pemimpin, walaupun mereka mempunyai semangat yang energik, namun perbandingan nilainya adalah 1:3 dan menurut saya perbandingan ini sangat tidak berimbang sekali. Maka tidaklah salah jika sebagian orang berasumsi bahwa menjamurnya generasi muda yang ingin menjadi the next leader tidak lebih hanya dipengaruhi oleh zeitgeist yang di bawa oleh Obama.

Adanya pandangan sebelah mata terhadap generasi muda yang maju pada Pemilu 2009 nanti, saya rasa sangatlah salah apabila semua masalah carut marut ini harus ditumpahkan seluruhnya kepada generasi muda. Namun permasalahan kenapa bangsa ini tidak pernah lepas dari kutukan kesengsaraan, saya rasa hal ini juga tidak terlepas dari peranan generasi tua yang merasa diri mereka sangat berpengalaman, namun didalam praktiknya untuk mengambil sebuah langkah yang baru atau kebijakan yang baru mereka tidak lebih dari seekor kura-kura. Mereka masih takut untuk melangkah lebih jauh sehingga dalam perkembangannya selama masa kepemimpinan generasi tua di Indonesia tidak ada sebuah pembaharuan dan sebuah gebrakan.

Maka jika kita kembali lagi kenapa sikap apatis atau Golput itu bisa meningkat, saya rasa dilatar belakangi oleh beberapa faktor. Pertama, mayarakat Indonesia pada saat sekarang ini sudah sangat kritis didalam mengganalisa dan menghadapi masalah. Kedua, para kandidat yang akan menjadi the next leader pada Pemilu 2009 nanti, umumnya didominasi oleh pemain-pemain lama. Ketiga pertarungan politik mengenai kelayakan kaum muda dengan kaum tua yang semakin tajam yang tidak kunjung usai telah melahirkan suatu kejemuan terhadap sistem dari bangsa ini, yang pada akhirnya akan melahirkan pertanyaan, kita ini di bentuk sistem atau kita yang akan membentuk sistem?

* * * * *

~ oleh tjahajatimoer di/pada Januari 24, 2009.

Tinggalkan Balasan