Cultural

BUDAYA YANG TERPINGGIRKAN

Pada masyarakat kontemporer orang lebih menilai dan menganalisa budaya hanya sebagai sebuah trend yang terwujud dalam bentuk life style. Hal ini tidak dapat pula dipungkiri ketika fungsi dari sebuah budaya hanya sebuah kebutuhan tersier yang hanya akan dibutuhkan ketika kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Saya melihat bahwa unsur-unsur budaya atau wujud dari sebuah budaya itu sendiri telah memudar, dimana dirasakan wujud dari sebuah budaya adalah sebuah kebutuhan yang mewah. Dan ini sangat bertentangan sekali dengan dogmatik budaya itu sendiri yang mengasumsikan budaya itu sebagai background manusia yang terangkum dalam segala aktivitas, hasil, karya dan cipta manusia.

Masalah diatas adalah sebuah pengkajian dalam sebuah konteks pemikiran, dan disini saya akan mencoba melakukan sebuah pennjabaran, dimana kedudukan sebuah konteks budaya bukan hanya sebagai background sekelompok individu namun kita akan mencoba mengkaji secara bersama-sama bgaimana wujud dari sebuah budaya itu berevolusi dari waktu ke waktu.

Menurut pemikiran saya, pada dasarnya saya melihat bahwa ada tiga tahapan didalam perubahan-perubahan budaya yang nantinya dipandang sebagai sebuah evolusi budaya. Pada tahapan pertama saya menamainya dengan tahapan “Pencarian Identitas Budaya,” pada tahapan ini saya memulainya dari periodesasi  kedatangan Kolonial ke Nusantara hingga tahun 1945. kenapa saya mengatakan periode ini adalah tahapan Pencarian Identitas Budaya? Karena saya merasa dan melihat bahwa pada periode ini adalah periode dimana terjadinya sebuah akulturasi budaya Barat dengan budaya Orientalis yang pada akhirnya ditutup oleh jargon Timur yang dibawa oleh Jepang. Pada periode ini telah terjadi sebuah pergolakan didalam mencari sebuah wujud budaya yang ideal, apakah budaya bangsa Indonesia akan berkiblat ke arah Barat, Timur, atau akan melakukan sebuah akulturasi budaya yang saya anggap sebagai “Dualisme Budaya.” Saya mengartikan makna dualisme budaya disini sebagai sebuah percampuran dua jargon budaya, dimana ada sebuah keselarasan didalam menjalankan budaya itu sendiri. Perlu ditekankan disini bahwa pada periode ini menurut asumsi saya walaupun wujud budaya itu sendiri belum jelas, namun khalayak ramai telah mempergunakan budaya sebagai sebuah  identitas yang akan mewakili semua aspek aktivitas mereka.

Pada tahapan yang kedua didalam evolusi budaya, saya menamainya dengan tahapan “Pemilihan Budaya.” Yang mana saya mencoba melakukan periodeisasi dari tahun 1945 sampai tahun 2000. pada tahapan pemilihan budaya saya mengartikan sebagai sebuah tahapan peralihan, dimana pada periode sebelumnya wujud dari sebuah budaya masih dipertentangkan dan dipertanyakan. Terlepas dari tahapan peralihan tersebut saya melihat periode 1945 sampai 2000 adalah sebuah tahapan didalam menentukan pilihan yang ditandai dengan sebuah proses tesa dan anti tesa yang akhirnya ditutup dangan sintesa yang merupakan sebuah kesimpulan dan merujuk kepada sebuah pilihan. Dan saya melihat pilihan tersebut mengarah kepada sebuah wujud budaya yang berbentuk dualisme budaya.

Pada tahapan yang ketiga saya melabelnya dengan tahapan “Perobahan Fungsi Budaya.” Pada tahapan ini saya mencoba melakukan periodeisasi yang dimulai dari tahun 2000 sampai sekarang. Saya melihat pada periode ini adalah sebuah peralihan fungsi dari wujud budaya itu sendiri, dimana fungsi awal dari sebuah budaya itu sendiri adalah sebuah latarbelakang atau sebuah identitas individu yang terangkum dalam segala hasil karya, cipta, dan karsa manusia. Namun pada perkembangan selanjutnya dogmatik dari fungsi sebuah budaya itu sendiri secara berangsur-angsur sudah mulai memudar, dan hal ini sudah dapat disimpulkan sebagai sebuah peralihan fungsi budaya.

Dalam konteksnya, perlihan fungsi dari sebuah wujud budaya ini saya menafsirkannya dengan sebuah acuan bahwa masyarakat bukannya tidak perduli lagi atau apatis terhadap budaya, namun kenapa fungsi dari wujud budaya itu bisa berubah hal itu dikarenakan tak lain dan tak bukan budaya itu adalah sebuah aktivitas yang mahal. Dimana pada periode modernis masyarakat lebih memposisikan aktifitas budaya sebagai sebuah kebutuhan tersier, maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan dari budaya itu sendiri berada paada posisi ketiga setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi.

Kenapa budaya itu bisa mahal, saya rasa masyarakat komtemporer pada saat ini telah salah didalam mengartikan sebuah budaya, bahwa pada hakekatnya budaya bukan hanya sebuah komoditi fisik yang dapat di perjualbelikan. Masyarakat kontemporer menafsirkan budaya itu adalah sebuah karya masyarakat yang dapat mereka pergunakan sebuah trend dan sebuah mode, dan saya melihat ini adalah sebuah pemikiran yang sangat salah kaprah didalam menanggapi budaya. Lalu seperti apa wujud dari budaya itu sendiri? Seperti yang telah saya jabarkan diatas bahwa wujud dari sebuah budaya itu bukan hanya sebuah karya saja, namun juga ada karsa, dan cipta. Maka dapatlah diartikan bahwa wujud budaya itu sendiri sebagai sebuah latarbelakang, identitas, dan kekhasan sekelompok individu. Sedangkan masalah mengenai wujud budaya yang ditafsirkan sebagai sebuah komoditi (karya) yang dapat melahirkan nilai guna, saya melihatnya sebagai bentuk baru dari sebuah wujud budaya yang dari tiap periode ke periode lain terjadi sebuah perubahan didalam penafsirannya.

* * * * *


Tinggalkan Balasan