<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tjahajatimoer's Weblog</title>
	<atom:link href="http://tjahajatimoer.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com</link>
	<description>LIFE IS FREEDOM AND INDIVIDUAL NON KOOPERATIF</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Feb 2009 14:05:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tjahajatimoer.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/3761a69f5cf7b5d9355128cbc4260f61?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tjahajatimoer's Weblog</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tjahajatimoer.wordpress.com/osd.xml" title="Tjahajatimoer&#8217;s Weblog" />
		<item>
		<title>BURUH : MESIN KENDALI TANPA GAJI</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/02/22/buruh-mesin-kendali-tanpa-gaji/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/02/22/buruh-mesin-kendali-tanpa-gaji/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 14:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[ Himpitan ekonomi yang semakin berat telah mengaburkan sebuah azas-azas humanisme, dimana teori dari hukum rimba lebih dominan bagi kehidupan masyarakat di era kontemporer ini. Kita melihat bahwa terdapat beberapa lapisan masyarakat yang terbagi berdasarkan class didalam era modern, dan buruh adalah kelas atau kasta terbawah yang menduduki hierarki kehidupan pada zaman modern.
 Dilema-dilema yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=85&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_86" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-86" title="ributdemo-f" src="http://tjahajatimoer.files.wordpress.com/2009/02/ributdemo-f.jpg?w=300&#038;h=258" alt="Buruh" width="300" height="258" /><p class="wp-caption-text">Buruh</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Himpitan ekonomi yang semakin berat telah mengaburkan sebuah azas-azas humanisme, dimana teori dari hukum rimba lebih dominan bagi kehidupan masyarakat di era kontemporer ini. Kita melihat bahwa terdapat beberapa lapisan masyarakat yang terbagi berdasarkan <em>class</em> didalam era modern, dan buruh adalah kelas atau kasta terbawah yang menduduki hierarki kehidupan pada zaman modern.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Dilema-dilema yang sering dihadapi buruh adalah permsalahan pengakuan keeksistensian mereka dalam lindungan humanis, perrmasalahan PHK yang tidak pernah usai, dimana kepentingan dan hak-hak buruh itu sangat minim sekali diperhatikan. Buruh atau <em>Human Labor</em> lebih sering ditafsirkan sebagai sebuah mesin kendali canggih pada era modern yang tidak mempunyai gaji. Keeksistensian buruh dan hasil produk yang dihasilkan buruh hanya dihargai dengan sebuah upah yang minim, dan carut marut atasan yang <em>merecoki</em> mereka sebagai seorang budak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Pada pembagiannya kelas dari buruh itu terbagi atas beberapa kelas, namun yang paling menonjol adalah adalah kelas buruh dengan afiliasi pabrik dengan kelas buruh serabutan, dan kita melihat konteks kelas buruh dengan prototipe serabutan adalah kelas buruh yang mengafiliasikan aktifitasnya sebagai seorang kuli atau seorang tukang anggkat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Daya guna seorang buruh pada dasarnya hanya dipergunakan ketika seorang buruh itu masih kuat atau masih produktif didalam menghasilkan produk. Namun pada bagian buruh yang sudah memasuki usia senja dan ketika tenaga mereka semakin ringgkih, daya guna guna seorang buruh tidak diperlukan lagi sebagai <em>Human Labor</em>. Posisi buruh didalam kehidupan era modern adalah sekelompok kelas sosial yang kedudukannya terletak pada strata terbawah, dimana hak-hak dan kepentingan mereka terpinggirkan oleh kepentingan individu yang lebih dominan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Mengenai upah dari seorang buruh dalam praktiknya tidak ada ketetapan yang jelas mengenai pembatasan atas pembagian upah bagi seorang buruh, seorang buruh hanya diidentikkan sebagai seorang tenaga kasar, dengan upah minim yang kepentingannya tidak begitu penting. Maka dapat diartikan bahwa buruh adalah sebuah mesin kendali otomatis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Dalam kajian Marxisme, atau pada Negara-negara komunis kepentingan buruh adalah<span> </span>sebuah kepentingan yang harus diperhatikan, dan mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Hal ini mungkin dikarenakan keeksistensian buruh sebagai tenaga kerja yang menghasilkan suatu produk dan ikut menggerakkan perekonomian suatu Negara hanya bayangan utopis bagi seorang buruh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Posisi sebagai seorang buruh pabrik atau tenaga kerja adalah sebuah posisi di ujung gading, dimana mereka harus siap menerima jika pemecatan dijatuhkan kepada mereka. Lemahnya hukum di Indonesia bahkan tidak mampu melindungi hak-hak dari buruh, namun yang ada hanyalah hukum yang lebih memihak atau subjektif kepada kapialis era modern yang telah mengungkukng buruh sebagai <em>Human Labor</em> tanpa gaji dan dihargai dengan upah yang tidak memadai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Resiko memang jika menjadi seorang buruh, namun pemilihan hidup untuk menjadi buruh bukanlah pilihan mereka, mereka adalah sekelompok masyarakat yang terjerat oleh arus konsumtif dari kehidupan yang mutlak mereka penuhi. Terkadang kekurangsenangan atau riak-riak suara penuntutan buruh malah hanya akan menjadi sebuah pemecatan yang pada akhirnya malah menciptakan hidup menjadi sebuah konflik yang keras yang harus mereka hadapi. Pada dasarnya hubungan antara buruh dengan pemimpin pabrik tidak tercipta suatu komunikasi yang baik, diamana dilemma-dilema yang sering menghantui buruh seperti masalah waktu kerja, pembagian upah yang minim kerapkali menjadi picu maslah dalam sebuah pabrik terutama sekali pada buruh itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sampai sekarang ini belum ada keberpihakan pemerintah pada “buruh sebagai mesin tenaga kerja tanpa henti” apa lagi pada Parpol, mereka memang hanya membawa nama buruh sebagai isu-isu krusial yang yang mereka angkat dan pada akhirnya menjadi sebuah ajang pencarian simpati buruh terhadapap salah satu Parpol. Seharusnya jika mememang Partai tersebut lebih berafialiasi atau berpihak kepada buruh, maka sudah sewajibnya mereka memperhatikan dan melindungi hak-hak buruh dengan sebuah langkah kongkret, dan bukannya hanya menjadikan isu buruh sebagai metode pencarian simpati didalam ajang pemilu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Persoalan semakin pelik ketika buruh harus disungguhi donktrin yang memberatkan, salah satunya adalah Surat Keputusan Bersama Empat Menteri tentang Pemeliharaan Momentum Pertumbuhan Ekonomi Nasional di dalam mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Seperti yang telah saya jabarkan diatas, bahwasanya masalah yang selalu menjadi bayang-bayang bagi seorang buruh adalah masalah PHK, pemberhentian buruh secara mendadak adalah sebuah masalah klasik yang dari dahulu selalu dibicarakan oleh buruh, ini memperlihatkan bahwa keberpihakan kepada buruh pada dasarnya hanya isu-isu krusial yang dijadikan mitos, tanpa ada penanganan dan tanpa ada kepastian yang jelas mengenai masalah PHK. Yang lebih parah lagi adalah ketika sekelompok buruh di PHK dan mereka tidak mendapatkan pesangon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Jadi kesimpulannya adalah, posisi seorang buruh adalah posisi yang sangat rawan bagi sekelompok manusia pada era modern. Pertama, tidak adanya perlindungan atau keberpihakan pemerintah, parpol atau pun LSM terhadap buruh. Kedua, tidak adanya kepastian yang jelas berapa lama atau waktu kerja seorang buruh. Mungkin seorang buruh dikontrak dalam jangka waktu 5 tahun namun dalam prakteknya, belum genap 5 tahun terkadang buruh sudah di PHK. Ketiga, tidak adanya pesangon atau tunjangan yang diberikan oleh pemimpin perusahaan kepada para buruh. Maka dapat dikatakan bahwa jika hubungan kerja telah terputus dengan PHK, maka sejak itu pula hubungan buruh dengan perusahaan selesai, dan tanpa tunjangan apa pun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Mereka kaum buruh, mereka yang ditindas, mereka yang tidak ada perlindungan, mereka berdiri sendiri, mereka memilih buruh karena itu bukan pilihan, namun karena tidak adanya pilihan yang lain, mereka adala mesin kerja, mesin canggih yang dieksploitasi tanpa henti, tanpa gaji, tanpa pesangon, dan hanya mendapatkan upah yang minim, dan menurut saya itulah definisi dari seorang buruh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;">* * * * *</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=85&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/02/22/buruh-mesin-kendali-tanpa-gaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tjahajatimoer.files.wordpress.com/2009/02/ributdemo-f.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ributdemo-f</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Minangkabau, Intelektual yang Terputus</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/minangkabau-intelektual-yang-terputus/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/minangkabau-intelektual-yang-terputus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 15:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah membaca bahwa artikulasi dari sebuah Intelektual bukan saja orang-orang yang telah melewati tahap-tahap akademis, dengan jenjang pendidikan yang legal. Namun Intelektual yang dimaksutkan di sini adalah sebuah golongan dengan sebuah ide-ide pembaharuan, tanpa ikatan suatu status. Apakah ia adalah seorang seniman, artis, politikus, dokter, guru, dan sebagainya, asalkan ia mempunyai ide-ide pembaharuan maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=81&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Saya pernah membaca bahwa artikulasi dari sebuah Intelektual bukan saja orang-orang yang telah melewati tahap-tahap akademis, dengan jenjang pendidikan yang legal. Namun Intelektual yang dimaksutkan di sini adalah sebuah golongan dengan sebuah ide-ide pembaharuan, tanpa ikatan suatu status. Apakah ia adalah seorang seniman, artis, politikus, dokter, guru, dan sebagainya, asalkan ia mempunyai ide-ide pembaharuan maka ia sudah dapat di golongkan sebagai Intelektual.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Jadi dapat disimpulkan bahwa kriteria seorang Intelektual bukan hanya sebuah simbolis semata, namun Intelektual yang dimaksutkan disini adalah Intelektual yang diakui melaui ide-ide mereka dan karya mereka. Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengambil perbandingan anatara proporsisi Intelektual pada abad ke-18 di Minangkabau, dengan perbandingan proporsisi Intelektual pada Era Kontemporer di Sumatera Barat.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Intelektual di Minangkabau pada abad ke-18 menurut saya adalah sebuah gerakan pemikiran yang didasari oleh pengalaman belajar, tanpa naungan dari birokrasi pendidikan yang legal. Kenapa saya mengatakan bahwa pada periode ini pendidikan dipraktekan tanpa naungan birokrasi yang legal ? Karena wujud dari pendidikan yang dijalani atau yang di praktekkan disini adalah sebuah pendidikan yang berwujud dalam sebuah tatanan hierarkis Surau. Seperti yang kita ketahui pula pada periode ini fungsi sebuah Surau sagatlah penting dan sangat menentukan didalam melahirkan sebuah generasi-generasi Intelektual Minangkabau. Surau bukan hanya sebagai rutinitas religi, namun juga surau adalah sebuah wadah pendidikan, dan tempat bergaul sesama besar.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Jiwa zaman yang tidak memungkinkan untuk belajar di lembaga yang legal, telah membentuk sebuah gerakan berupa debat-debat dan didkusi-diskusi lepas yang pada akhirnya akan menyeret kepada sebauah realita yang harus mereka hadapi dan mereka lewati. Mahalnya harga pendidikan atau masih berklakunya Rasial pendidikan terhadap masyarakat pribumi bukan berarti sebuah halangan untuk menciptakan sebuah golongan yang bodoh. Namun mahalnya sebuah institusi pendidikan malah melahirkan sebuah pendidikan liar atau semacam pendidikan terbuka yang malah melahirkan sebuah intelektual-intelektual dengan ide pemikiran yang Revolusioner.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Seperti yang telah saya sebutkan diatas bahwa jiwa zaman yang sedang berlangsung juga merupakan sebuah sprit untuk terbebas dari kebodohan. Periode jiwa zaman yang saya maksutkan disini adalah sebuah periode dimana terjadinya atau berlangsungnya sebauah pergesekan budaya dan pemikiran masyarakat Miangkabau dengan pemikiran-pemikiran luar, apakah pemikiran itu berasal dari Arab, ataupun dari Eropa. Pergesekan pemikiran ini biasanya terjadi karena dua faktor yang sangat Fundamentalis sekali. Yang pertama karena faktor Budaya, dimana seperti yang telah kita ketahui bahwa tidak pernah ada ruang bagi seorang laki-laki didalam Rumah gadang (laki-laki dewasa tidak boleh menenpati rumah gadang). Adanya prasyarat demikian yang berlaku di Minagkabau mengharuskan seorang laki-laki itu sendiri untuk merantau. Adapun modal yang mereka bawa untuk merantau adalah pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan dari Surau, dan disinilah peran sebuah Surau sangat menentukan bagi masyarakat Mianangkabau pada saat itu.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Faktor yang kedua, adalah faktor Religi, dimana pada sebuah rutinitas agama Islam mengharuskan seseorang untuk naik Haji bagi yang mampu. Selama masa Haji inilah bisanya terjadi sebuah pergesekan pemikiran anatara orang Minangkabau dengan masyarakat Internasional. Selain itu selama kegiatan haji mereka bukan hnaya sekedar menunaikan ibadah haji semata, namun mereka mencoba mencari guru dan belajar kepada guru tersebut, sehingga nantinya jika mereka sekembalinya dari tanah Mekkah mereka dapat menyebarkan ajaran-ajaran yang mereka dapatkan selama masa Haji.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Namun seriring dengan berjalannya waktu, saya melihat telah terjadi sebuah pergeseran didalam memaknai dan mengartikan sebuah Intelektual. Dimana Inteklektual dalam kehidupan kontemporer lebih di fokuskan kepada sebuah pembelajaran yang lebih mengarah kepada sebuah pencarian title, pangkat, penghargaan dan sebagainya. Saya melihat ini adalah sebuah pemikiran parakmatis, diamana dalam wujud Intelektual itu senditi telah terjadi sebuah kemunduran.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Faktor yang menyebabkan kemunduran yang pertama mungkin saja disebabkan karena adanya sistem kurikulum belajar yang berlaku lebih mengarah kepada teks bukan kepada konteks, yang pada akhirnya akan menyebabkan pembatasan atau penyempitan dalam sebuah pemikiran masyarakat. Pada periode ini kita akan sangat jarang sekali menemukan polemik-polemik, atau sebuah diskusi-diskusi, karena memang sistem pembelajaran yang kita sekarang ini lebih memfokuskan kepada teks, namun ketika mereka keluar dari institusi pendidikan mereka akan merasa aneh, karena konteks kehidupan bermasyarakat ayang mereka terima di Sekolah dengan di dalam masayarakat ternyata sangat berbeda dengan realitanya. Maka tidaklah heran jika umumnya orang-orang yang telah menamatkan pendidikannya di dalam sebuah institusi, akan merasa canggung ketika mereka berada di tengah-tengah masayarakat.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Seperti yang kita ketahui bahwa identitas dan image merantau yang sangat kentara pada masyarakat Minang merupakan sebuah budaya yang tidak dapat di lepas dan di tinggalkan. Dan karena budaya ini pula yang telah menyebabkan para pemikir Minang menjadi terpisah-pisah dari kampung halaman mereka sendiri demi menuntut ilmu dan menambah wawasan. Walaupun keberadaaan mereka saling berjauhan satu sama lain, seperti Hatta di Belanda, dan Tan Malaka di singapura, namun hubungan senasib dan seperjuagan telah menciptakan koneksi yang lebih bersifat persaudaraan dan satu keluarga, yang bernaung dibawah payung Minagkabau. Intensitasnya waktu dan pergolakan zaman yang terjadi tidak akan pernah akan mendorong mereka untuk mundur, namun menurut mereka hal ini adalah sebuah perjuangan yang harus dipertahankan.</p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;">* * * * *</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=81&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/minangkabau-intelektual-yang-terputus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budaya Barat, Budaya Ideal</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/budaya-barat-budaya-ideal/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/budaya-barat-budaya-ideal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 15:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Pada periode saat sekarang ini adalah sebuah periode pergesekan dan proses perbenturan katika budaya telah bersentuhan dengan peradaban Barat.. Esensialnya budaya orientalis yang di asumsikan sebagai identitas budaya orang Timur tidaklah selalu dapat bertahan jika budaya tersebut akan memasuki periode modern. Pada periode modern ini tidak dapat dipungkiri pula bahwa proses ini telah merobah mindset [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=74&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Pada periode saat sekarang ini adalah sebuah periode pergesekan dan proses perbenturan katika budaya telah bersentuhan dengan peradaban Barat.. Esensialnya budaya orientalis yang di asumsikan sebagai identitas budaya orang Timur tidaklah selalu dapat bertahan jika budaya tersebut akan memasuki periode modern. Pada periode modern ini tidak dapat dipungkiri pula bahwa proses ini telah merobah <em>mindset</em> masyarakat Timur untuk berpindah kiblat kearah Barat. Sikab ambivalen masyarakat yang mengklaim bahwa budaya barat adalah budaya barbar, menurut asumsi saya itu adalah sebuah pemikiran dangkal yang sangat tidak beralasan. Disatu sisi kita telah memunafikkan wujud dari budaya yang kita kenakan. Dimana pada dasarnya masayarakat Timur sangat menolak budaya yang berbau atau berkiblat ke Barat, namun di sisi lain secara tidak langsung kita telah mempraktekkan dan mempublikasikan budaya Barat tersebut tanpa kita sadari. Tidak ada salahnya bukan, apabila kita meyakini dan megikuti arus dari budaya Barat sebagai budaya yang ideal. Bukankah pada hakekatnya proses perubahan pada suatu masyarakat telah membentuk sistem yang baru, dan pola fikir yang baru pula untuk bersifat terbuka di dalam menanggapi suatu perubahan, terutama dari segi budaya.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Budaya Barat bukanlah sebuah kesalahan, dimana semuah tumpah-ruah kealahan harus dilimpahkan kepadanya, intensitasnya budaya Barat adalah sebuah wujud dari sebuah kesetaraan yang sangat di hargai dan dijunjung tinggi. Namun sangatlah hina apabila kiranya memelihara budaya Timur dimana ketika mereka harus berjalan beringsut-ingsut dengan lutut dan mensimboliskannya sebagai sebuah kepatuhan yang diharuskan atau dipaksakan. Atau mungkin hanya menjadikan sebuah kamuflase identitas belaka. Mungkin mereka dapat berkilah bahwa ini adalah adat dan budaya mereka yang mereka anggap sakral dan sangat di junjung tinggi oleh masyarakat sekitar kiranya. Namun bukti menyatakan hal yang lain, pada praktiknya tanpa kita sadari kita telah mempraktekkan budaya Barat didalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Subtansial yang ingin dibicarakan disini bukanlah untuk melahirkan sebuah pertentangan. Namun pada dasarnya saya akan mengajak anda kepada sebuah penilaian, seberapa kuatkah budaya orientalis akan tetap bertahan pada periode kontemporer ini? Secara hierarkis didalam masyarakat modern kita akan jarang sekali atau sangat sulit untuk menemukan sebuah praktik-praktik budaya Timur di dalam kehidupan masyarakat keseharian. Namun apa yang akan kita ketemukan pada saat sekarang ini adalah sebuah <em>cover </em>dari budaya Timur namun subtansinya adalah budaya Barat. Maksutnya disini adalah ketika kita mempraktikkan sebuah budaya Timur, namun pada metodenya kita menggunakan jargon Barat. Dan saya rasa ini adalah sangat salah kaprah sekali dimana ada dua wujud kebudayaan pada masyarakat pada saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Saya rasa yang diperlukan di sini adalah sebuah pemisahan yang sangat jelas, dimana jika suatu masyarakat ingin mengamalkan budaya yang bersifat orientalis maka didalam metodenya juga harus menggunakan pendekatan budaya Timur, bukannya pendekatan dengan budaya Barat. Namun tidak dapat pula saya menjamin jika didalam puritanisme (pemurnian) budaya pada wujud yang kita anggap akan melahirkan budaya ideal, belum tentu dapat bertahan selamanya. Dimana saya melihat proses Globalisasi yang begitu deras dan kuat nantinya malah akan membawa sebuah perubahan atau wujud yang baru pada budaya tersebut. Seperti yang kita pahami pada dasarnya Globalisasi itu sendiri telah menginfluence <em>mindset </em>(pola fikir) masyarakat didalam memahami dan menafsirkannya budaya Barat sebagai budaya yang ideal.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Kesimpulannya adalah penilaian suatu budaya dan menimbangnya apakah budaya Barat itu layak atau tidak, saya rasa perlu dipertimbangkan kembali. Kerena pada perjalanannya kita akan melakukan sebuah proses evolusi, dimana pada awalnya kita berkiblat pada orientalis namun secara kebutuhan dan tuntutan hidup kita akan berpindah jargon ke budaya Barat. Sangat salah kaprah bila kita menilai budaya Barat sebagai budaya yang barbar jika kita hanya memperhatikan pada subtansi dari luarnya saja. Bukankah pada dasarnya budaya Barat itu sendiri menjunjung tinggi suatu paham kebebasan dan kesetaraan.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Bukanlah berarti pula bahwa budaya Timur adalah sebuah budaya yang kolot, namun saya berharap bahwa dengan adanya tulisan ini setidak-tidaknya bisa dijadikan sebuah pengantar untuk menuju budaya Barat yang ideal. Selain itu perlunya puritanisme (pemurnian) budaya saya rasa juga sangat di butuhkan, karena pada periode Globalisasi ini kita di tuntut untuk menentukan pilihan, mengarah kepada budaya Barat atau budaya Timur? Namun bukannya memilih Dualisme budaya yang berwujud ganda yang akhirnya akan melahirkan sebuah salah penafsiran diadalam menyikapi budaya tersebut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=74&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/budaya-barat-budaya-ideal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Golput adalah Pilihan</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/golput-adalah-pilihan/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/golput-adalah-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 15:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir  ini minat pemilih pada Pemilu dan Pilakada di Indonesia mengalami penurunan  yang sangat tajam. Sikap apatis atau golput pada Pemilu yang akan datang  saya rasa bukanlah di latarbelakangi oleh alasan-alasan kasik seperti,  janji-janji yang tidak terpenuhi, tidak adanya perubahan, sikap tidak  percaya, dan sebagainya. Dan menurut saya akar masalahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=68&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Akhir-akhir  ini minat pemilih pada Pemilu dan Pilakada di Indonesia mengalami penurunan  yang sangat tajam. Sikap apatis atau golput pada Pemilu yang akan datang  saya rasa bukanlah di latarbelakangi oleh alasan-alasan kasik seperti,  janji-janji yang tidak terpenuhi, tidak adanya perubahan, sikap tidak  percaya, dan sebagainya. Dan menurut saya akar masalahnya bukan berputar  pada masalah yang demikian, namun ada suatu dilema-dilema yang telah  mengakar pada masyarakat itu sendiri. Lalu apa masalahnya sehingga Golput  menjadi sebuah pilihan bagi masyarakat Indonesia yang katanya menjunjung  nilai-nilai demokrasi?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Akar  permasalahan kenapa Golput dapat meningkat tajam, menurut asumsi saya  hal ini dikarenakan para calon atau kandidat (the next leader) yang  akan maju ke Pemilu 2009 nantinya adalah pemain-pemain lama yang sepak  terjang mereka sudah dapat di terka dan dibaca oleh masyarakat Indonesia,  dengan adanya pemain-pemain lama ini tentunya akan melahirkan sebuah  perasaan jemu. Dimana masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini adalah  sebuah masyarakat yang sudah mulai kritis didalam menanggapi dilema-dilema  yang sedang berlangsung, terutama dalam permasalahan pemilihan pemimpin  selanjutnya. Tidak adanya regenerasi pemimpin yang menyebabkan munculnya  pemain-pemain lama pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah  tidak adanya generasi muda yang mampu untuk memimpin, atau hal ini dikarenakan  oleh para pemimpin tua yang belum bisa mempercayai sepenuhnya untuk  mewariskan tampuk kepemimpinan kepada generasi muda.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kembali  lagi kepada permasalahan kejemuan masyarakat Indonesia kepada pemain  lama, hal ini mungkin dikarenakan didalam perkembangannya mereka tidak  pernah menjadi <em>agent of change</em> namun mereka lebih memilih mengambil  sikap atau kebijakan untuk bertahan. Dimana tidak adanya pembaharuan  dan sebuah gebrakan baru, namun mereka masih percaya pada spirit dan  mindset mereka yang lama.</span></p>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Perebutan  Generasi</strong></span></p>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Yang  muda belum mampu, dan yang tua tidak tau diri. Saya rasa itulah yang  sedang dialami oleh bangsa ini, dimana pertentangan antara golongan  tua dengan golongan muda tidak pernah usai. Apakah ini adalah benih-benih  kebencian dari masa Orde Lama, atau mereka yang tidak mau belajar dari  sejarah? </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Belum  lama ini muncul sebuah perdebatan-perdebatan yang dapat dikatakan memanas,  dimana pada perdebatan tersebut sering kali dipertanyakan kelayakan  kepemimpinan kaum tua yang berpengalaman namun lamban didalam mengambil  keputusan berhadapan dengan dengan kepemimpinan kaum muda yang agresif  namun dinilai belum mampu untuk menjadi <em>the next leader</em>. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sebagian  orang mungkin berasumsi bahwa bermunculannya para kandidat yang mengusung  nama atau golongan kaum muda tentunya tidak terlepas dari pengaruh Obamaisme  yang menginfluece seluruh dunia. Dimana sosok Obama yang energik dengan  usia yang muda sudah siap untuk menjadi Presiden Amerika. Namun permasalahannya  sekarang ini adalah bukan hanya terletak pada zeitgeist (jiwa zaman),  tapi ada perbedaan yang sangat fundementalis antara calon pemimpin yang  berjargon generasi muda dengan Obama. Kenyataanya Obama memiliki sebuah  prasyrat yang lengkap untuk menjadi seorang presiden Amerika, dan ia  sudah sangat matang untuk hal ini. Berkharismatik, memiliki sebuah gebrakan,  enrgik, progresif, serta mempunyai kemampuan untuk memimpin, dan itu  memang dikuasai betul oleh Obama.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Namun lain halnya dengan para kandidat muda yang ingin mencoba kue kepemimpinan  Indonesia, mereka belum mempunyai pengalaman yang kuat, kurang berkharismatik,  sehingga masyarakat belum begitu mengenal mereka, dan kemampuan mereka  masih diragukan untuk menjadi pemimpin, walaupun mereka mempunyai semangat  yang energik, namun perbandingan nilainya adalah 1:3 dan menurut saya  perbandingan ini sangat tidak berimbang sekali. Maka tidaklah salah  jika sebagian orang berasumsi bahwa menjamurnya generasi muda yang ingin  menjadi <em>the next leader</em> tidak lebih hanya dipengaruhi oleh zeitgeist  yang di bawa oleh Obama. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Adanya  pandangan sebelah mata terhadap generasi muda yang maju pada Pemilu  2009 nanti, saya rasa sangatlah salah apabila semua masalah carut marut  ini harus ditumpahkan seluruhnya kepada generasi muda. Namun permasalahan  kenapa bangsa ini tidak pernah lepas dari kutukan kesengsaraan, saya  rasa hal ini juga tidak terlepas dari peranan generasi tua yang merasa  diri mereka sangat berpengalaman, namun didalam praktiknya untuk mengambil  sebuah langkah yang baru atau kebijakan yang baru mereka tidak lebih  dari seekor kura-kura. Mereka masih takut untuk melangkah lebih jauh  sehingga dalam perkembangannya selama masa kepemimpinan generasi tua  di Indonesia tidak ada sebuah pembaharuan dan sebuah gebrakan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Maka  jika kita kembali lagi kenapa sikap apatis atau Golput itu bisa meningkat,  saya rasa dilatar belakangi oleh beberapa faktor. Pertama, mayarakat  Indonesia pada saat sekarang ini sudah sangat kritis didalam mengganalisa  dan menghadapi masalah. Kedua, para kandidat yang akan menjadi <em>the  next leader</em> pada Pemilu 2009 nanti, umumnya didominasi oleh pemain-pemain  lama. Ketiga pertarungan politik mengenai kelayakan kaum muda dengan  kaum tua yang semakin tajam yang tidak kunjung usai telah melahirkan  suatu kejemuan terhadap sistem dari bangsa ini, yang pada akhirnya akan  melahirkan pertanyaan, kita ini di bentuk sistem atau kita yang akan  membentuk sistem? </span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Franklin Gothic Heavy;font-size:small;">* * *  * *</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=68&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/golput-adalah-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROPAGANDA BUDAYA MINANGKABAU DAN BAYANGAN UTOPIS</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/propaganda-budaya-minangkabau-dan-bayangan-utopis/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/propaganda-budaya-minangkabau-dan-bayangan-utopis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 14:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Adanya spirit bereforia telah melahirkan sebuah lapisan sosial yang sibuk dengan fantasi sesaat untuk mengenang kejayaan Minangkabau sebagai etnis budaya yang besar pada masa tempo dulu. Selain itu diperkuat pula dengan adanya asumsi bahwa budaya Minangkabau adalah budaya tertinggi karena menurut mereka budaya Minangkabau adalah sebuah budaya yang ideal dalam pandangan masayarakat Minang itu sendiri.
Namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=63&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Adanya spirit bereforia telah melahirkan sebuah lapisan sosial yang sibuk dengan fantasi sesaat untuk mengenang kejayaan Minangkabau sebagai etnis budaya yang besar pada masa tempo dulu. Selain itu diperkuat pula dengan adanya asumsi bahwa budaya Minangkabau adalah budaya tertinggi karena menurut mereka budaya Minangkabau adalah sebuah budaya yang ideal dalam pandangan masayarakat Minang itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun relitanya apa yang telah kita bangga-banggakan dan apa yang telah kita usahakan semuanya hanyalah mimpi yang pada akhirnya akan berubah menjadi sebuah utopis yang akan berpulang kepada kita kembali, dan itulah yang terjadi sekarang pada budaya Minangkabau yang selalu kita banggakan walau terkadang kita tidak pernah tahu makna dan artikulasi budaya Minangkabau bagi masyarakat Minang kontemporer. Keinginan untuk merevivalisasi budaya Minangkabau itu memang ada, walaupun pada nyatanya kita hanya terperangkap pada lingkaran dan tujuan yang tidak jelas juntrungannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin terkadang kita pernah sadar bahwa ada batasan-batasan yang tidak dapat di lewati yang pada akhirnya akan menghambat tujuan kita untuk membangkitkan kenangan kejayaan Minangkabau yang berlandaskan kepada Adat dan Islam. Batasan tersebut tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri, dimana kita yang hanya <em>fun</em> dengan budaya Minang namun kita tidak pernah tahu bagai mana cara untuk merespon dan mengaplikasikan kembali kejayaan budaya Minang kedalam masyarakat Minang kontemporer dalam artian merekonstruksi ulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu kita ketahui bahwa Minang dahulu dengan Minang sekarang sangat jauh berbeda, dan benang merah itu memang kentara sekali. Minagkabau pada masa tempo dulu adalah sebuah aktivitas masyarakat yang ditata oleh pola pemikiran yang ideal yang berlandaskan kepada Islam dan Adat. Namun <em>“lain padang lain ilang, lain lubuak lain ikannyo”,</em> masayarakat Minang kontemporer mempunyai ciri khas tersendiri didalam menentukan keberlanjutan aktivitas mereka. dimana pada periode masyarakat Minang kontemporer adalah sebuah aktivitas masyarakat yang dipengaruhi emosi zaman dan tuntutan paham mendunia yang dikenal dengan Era Globalisasi, dengan kata lain masyarakat Minang kontemporer adalah masyarakat yang sedang menuju kepada masyarakat Universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya atau banyaknya pengetahuan yang telah meng-influence telah melahirkan sinkronisasi yang sangat rumit. Masyarakat Minangkabau kontemporer adalah sebuah gerakan yang mencoba terus maju dan mencoba untuk menembus batas-batas kesetaraan yang berawal dari pengaruh globalisasi itu sendiri. Walaupun pada akhirnya yang akan diterima sebuah pengikisan dan kehilangan budaya yang esensial dari budaya Minangkabau, namun konsep ini adalah sebuah dilema yang harus diterima dari konsepsi global yang dianut masyarakat Minang kontemporer. Dan hal ini tentunya adalah sebuah keharusan untuk mencapai sebuah identitas yang baru dan untuk lepas dari bayang-bayang fanatisme yang telah menjadi darah daging bagi mayarakat Minang.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut saya desakan global atas budaya Minang adalah sebuah imajiner yang harus diaplikasikan pada budaya Minang itu sendiri, dengan harapan akan munculnya kepermukaan hal-hal yang positif dalam artian masyarakat Minang gaya baru yang awalnya hanya bertahan kemudian telah berubah menjadi sebuah kemajuan dalam artian yang ideal bagi masyarkat Minang kontemporer. Karena pada dasarnya budaya yang hanya bertahan umumnya lebih cendrung bersifat pasif dan berjalan ditempat, tampa mempunyai tujuan-tujuan yang pasti.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjadi orang Minang ideal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer diperlukan sebuah pola pemikiran dan gaya yang jelas terhadap sebuah perubahan yang akan ditempuh bersama. Hal ini bukan saja sebuah keharusan yang harus diterima atas konsesi yang mereka ambil, namun ini adalah sebuah rasa kecintaan yang berlandasan kepada emosi sezaman yang telah membentuk sebuah <em>entry</em> yang solit, prima dan ideal.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayang-bayang fanatisme yang masih menjadi <em>basic image</em> telah menjadi sebuah kontroversial yang tidak terbantahkan, dalam artian asumsi dan pandangan khalayak yang telah mendarah daging. Walaupun pada hakikatnya tidak pernah ada larangan untuk menginterprestasi pendapat mereka, namun adanya batasan pada pemikiran manusia sangat perlu untuk di delegitimasi atas paham-paham yang mereka anut. Masalahnya adalah apakah semua yang telah kita rencanakan akan menjadi sebuah hasil atau tujuan yang jelas untuk melahirkan masyarakat Minang kontemporer yang ideal hanya dengan berpijakan kepada emosial zaman. Atau semua ini hanya sebuah propaganda yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah bayangan masyarakat utopis atas konsesi kegagalan didalam menciptakan masayarakat Minang kontempor yang ideal. Karena seperti yang telah jabarkan diatas bahwa ada batasan-batasan yang sulit untuk ditembus hanya dengan spirit bereforia, namun juga diperlukan sebuah kesabaran yang sangat terkontrol.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu dampak dari globalisasi tidaklah sepenuhnya bembawa angin segar, namun terkadang globalisasi adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi masyarakat Minang kontemporer itu sendiri. Jika demikian adanya maka sudah tentu diperlukan sebuah pengkritisan sebagai bagian dari pola filterisasi. Serta mereka juga harus mengambil sebuah kebijakan yang berani dimana adanya sebuah pertaruhan atas keutuhan budaya Minangkabau itu sendiri. Selain itu adanya sikap fanatisme yang terlalu berlebihan juga dapat melahirkan sifat anarkisme ke permukaan yang akan menambah deretan antrian masalah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=63&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/propaganda-budaya-minangkabau-dan-bayangan-utopis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMILIHAN CALEG, SEBUAH AJANG TARUHAN</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/pemilihan-caleg-sebuah-ajang-taruhan/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/pemilihan-caleg-sebuah-ajang-taruhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 14:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[ Awal  periode 2009 adalah periode yang sangat sibuk bagi masyarakat Indonesia,  hal ini dikarenakan pada awal tahun 2009 adalah sebuah periode kompetisi  yang memanas. Dimana kita akan melihat makin banyaknya calon-calon leader  yang muncul ke permukaan, namun masyarakat semakin apatis terhadap pemilu  itu sendiri (Golput). Saya melihat disini bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=55&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;"> Awal  periode 2009 adalah periode yang sangat sibuk bagi masyarakat Indonesia,  hal ini dikarenakan pada awal tahun 2009 adalah sebuah periode kompetisi  yang memanas. Dimana kita akan melihat makin banyaknya calon-calon leader  yang muncul ke permukaan, namun masyarakat semakin apatis terhadap pemilu  itu sendiri (Golput). Saya melihat disini bahwa yang menjadi latar belakang  kenapa masyarakat Indonesia lebih banyak golput dikarenakan mindset  (pola fikir) masyarakat Indonesia telah bertranformasi menjadi pola  fikir yang kritis di dalam menganalisa suatu masalah, terutama sekali  pada permasalahan pemilu. Dalam artian masyarakat Indonesia menganggap  golput sebagai sebuah pilihan, ketika masyarakat telah jemu dengan pemilu-pemilu  semu yang hanya menghasilkan leader bobrok.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;">Terlepas  dari banyaknya masyarakat Indonesia yang golput, saya melihat bahwa  pada pemilihan caleg (calon legislatif) sebagai sebuah ajang pertaruhan.  Kenapa saya mengatakan pemilihan caleg sebagai sebuah ajang taruhan?  Hal ini didasari ketika saya melihat sebuah partai yang bisa dibilang  besar malah mengusung caleg mereka hingga 27 caleg dalam satu tubuh  partai. Hal ini terasa sangat janggal sekali di dalam pandangan saya,  dimana ketika golput menjadi sebuah permasalahan yang sangat urgen,  namun calon leader yang muncul kepermukaan malah semakin menjamur.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;">Mungkin  terkadang kita merasa pesimis, apakah dengan banyaknya caleg yang muncul  akan membawa sebuah perubahan yang berarti, atau hanya sebuah aktifitas  jalan ditempat saja? Memang benar bahwa setiap warga Negara Indonesia  berhak untuk mengajukan dirinya sebagai seorang pemimpin, namun bukan  berarti bahwa setiap orang yang merasa dirinya kaya dan kuat dalam sektor  financial dapat menjadi seorang caleg. Bahwa pada dasarnya untuk menjadi  seorang leader atau pun caleg yang dibutuhkan bukan hanya kekayaan ataupun  tim sukses yang solit, yang dibutuhkan adalah mereka yang kompetitif,  inovasi, punya gebrakan, dan berpengalaman didalam memimpin.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;">Di  dalam kenyataannya saya melihat bahwa yang menjadi pemimpin pada saat  sekarang ini adalah para leader yang terangkat oleh dukungan tim sukses  yang kuat, dan tentunya dengan penyuplaian financial yang lebih. Jadi  dapat diartikan bahwa ketika masyarakat memilih salah seorang caleg,  pada dasarnya mereka memilih caleg karena masyarakat termakan oleh kata-kata  tim sukses dari caleg tersebut, bukannya berdasarkan kemampuan kompetitif  dari caleg tersebut. Yang pada akhirnya ketika para caleg tersebut terpilih  menjadi seorang legislatif ia malah lupa akan kepercayaan masyarakat  yang telah memilihnya, dan seharusnya ini bisa menjadi sebuah pelajaran  buat kita dan bukannya menjadi sebuah lingkaran setan yang mengurung  masyarakat kedalam kebohongan-kebohongan publik.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;">Jika  demikian realitanya maka bukan berarti bahwa yang mempunyai finansial  kuat saja yang diperbolehkan untuk maju kedalam pemilihan caleg. Masih  ada masyarakat dari kalangan “kere” yang maju sebagai caleg pada  tahun 2009, dan ini membuktikan bahwa pemilihan caleg bukan hanya permainan  kaum elit saja namun masyarakat kelas bawah juga ingin berkompetisi.  Yang menjadi permasalahan adalah bukan masalah si kaya atau pun masalah  si miskin, namun yang menjadi problem di sini adalah, apakah mereka  mempunyai kemampuan yang kompetitif di dalam menjadi seorang leader?  Karena jika seseorang hanya bertopang pada kekuatan financial maka dapat  ditafsirkan itu sebagai sebuah strategi penjualan suara saja. Sedangkan  jika kita hanya bertopang pada semangat maka dapat diartikan itu sebagai  bayang-bayang utopis yang tanpa dilandasi sebuah praktik yang nyata.  Lalu benih mana yang akan berhasil, benih yang ditanam dengan dukungan  financial, atau benih yang ditanam dengan semangat dan harapan saja?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;">Lalu  apa yang menjadikan pemilihan caleg sebagai sebuah ajang taruhan? Ibarat  sebuah judi, pemilihan caleg adalah sebuah pemilihan yang berdasarkan  untung-untungan, dan bukanlah bedasarkan sebuah pertarungan yang kopetitif.  Di sini ada sector financial yang dipertaruhkan, dan itu tidak sedikit  jumlahnya. Maka ketika telah jelas siapa yang menang dan yang kalah,  terkadang depresi yang berat tidak dapat dihindarkan oleh yang kalah,  karena mereka telah mempertaruhkan segalanya. Dan itulah yang terjadi  sekarang pada pemilihan caleg di Indonesia sekarang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;">Mungkin  inilah wujud dari demokrasi bangsa Indonesia saat sekarang ini, ketika  kemampuan kompetitif seorang leader sangat sulit untuk ditemukan, namun  para calon leader dengan decking-an tim sukses yang solit malah laris  manis didalam kancah politik Indonesia. Labelnya memang betul sebuah  pemilu sebagai syarat Negara yang berdemokrasi dengan iming-iming pemilu  yang terbuka, jujur dan bersih, namun kapasitas yang ada didalamnya  murni sebuah taruhan dan perdagangan kepercayaan masyarakat.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;">Intensitasnya  adalah ketika masyarakat semakin apatis dengan pemilu, calon leader  yang muncul ke permukaan malah semakin menjamur dan ini tentunya berbanding  terbalik dengan realita yang harus diterima. Namun yang menjadi perhatian  utama apakah dengan banyaknya calon leader yang muncul kepermukaan mempunyai  sebuah daya kompetitif yang memadai dan hingga pada akhirnya akan melahirkan  sebuah perubahan dan bukannya terperangkap dalam lingkaran setan yang  tidak pernah usai. </span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Palatino Linotype;font-size:small;"><strong>*  * * * * *</strong></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=55&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/24/pemilihan-caleg-sebuah-ajang-taruhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Percepat BHP</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/23/percepat-bhp/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/23/percepat-bhp/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 03:59:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Percepat BHP
Belum  lama ini marak sekali dibicarakan mengenai masalah pro dan kontra akan  di berlakukannya sistem BHP pada seluruh universitas di Indonesia. Terlepas  dari layak atau tidaknya sistem BHP tersebut marilah kita mencoba menganalisa  seberapa besar dampak dan pengaruh dari BHP itu sendiri terhadap peningkatan  kualitas pendidikan di Indonesia. Apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=50&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><span style="font-family:Calibri;font-size:large;"><strong>Percepat BHP</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Belum  lama ini marak sekali dibicarakan mengenai masalah pro dan kontra akan  di berlakukannya sistem BHP pada seluruh universitas di Indonesia. Terlepas  dari layak atau tidaknya sistem BHP tersebut marilah kita mencoba menganalisa  seberapa besar dampak dan pengaruh dari BHP itu sendiri terhadap peningkatan  kualitas pendidikan di Indonesia. Apakah benar BHP adalah sebuah kapitalisme  dan sebuah ajang perdagangan di dalam tubuh pendidikan?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dalam  pandangan saya tidak seluruhnya bahwa BHP adalah sebuah sistem yang  buruk dan identik dengan sebuah perdagangan didalam tubuh pendidikan.  Kesan pertama yang dilihat oleh masyarakat bahwa setiap Universitas  yang menganut sistem BHP, yang pastinya biaya kuliah akan menjadi mahal  atau diatas standar. Namun jika kita melihat pada kualitasnya bahwa  BHP telah melahirkan sebuah Universitas yang sangat kompetitif, Universitas  Indonesia (UI) adalah salah satu produk BHP yang menurut saya cukup  sukses didalam menjalankan sistemnya. Dimana saya melihat bahwa UI sudah  dapat dikatakan sebagai Universitas berstandar nasional, namun masalah  mahalnya biaya kuliah menurut saya itu adalah masalah yang klasik dan  sangat berimbang, jika kita menginginkan sebuah kualitas yang baik maka  kita harus “merongoh”  saku lebih dalam, karena pada dasarnya pendidikan  itu bukanlah hal yang murah harganya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Jika  kita perbandingkan dengan mahalnya biaya pendidikan yang menganut sistem  BHP dengan spirit mahasiswa itu sendiri terhadap pendidikan, saya melihat  ada sebuah realita yang berbanding terbalik. Dimana kita melihat bahwa  pada dasarnya biaya pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan  biaya pendidikan di luar negri dirasa masih cukup murah. Pada realitanya  harga pendidikan yang murah di Indonesia bukanya menciptakan sebuah  lapiasan pelajar yang kompetitif dan idealis, namun malah menciptakan  pelajar-pelajar yang malas. Dan tentunya realita tersebut tidak dapat  kita bantah bahwa hanya segelintir saja dari Mahasiswa yang betul-betul  menghargai dan menikmati pendidikan sebagai sebuah paket yang murah,  dan sisanya mereka adalah generasi yang malas yang hanya akan menunggu  peruntungan yang akan merobah nasip mereka. Berangkat dari kepesimisan  saya terhadap mahasiswa sekarang ini maka saya mengasumsikan agar sistem  BHP sesegera mungkin dilaksanakan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Lalu  yang menjadi permasalahan sekarang adalah dengan diberlakukannya sistem  BHP apakah akan menjadi penghalang bagi Mahasiswa yang kurang mampu?  Jika kita melihat pada tingkatan ekonomi masyarakat Indonesia pada realitanya  bahwa tingkatan ekonomi masyarakat Indonesia adalah lebih dominan kepada  tingkatan ekonomi menengah ke bawah, dan jika memang sistem BHP akan  dilaksanakan, secara otomatis akan menjadi penghalang, dimana biaya  pendidikan di Universitas akan terasa semakin mencekik. Untuk mengatasi  permasalahan yang demikian saya mengasumsikan bahwa seharusnya pemerintah  mempunyai <em>alternative</em> untuk mengatasi masalah mahalnya biaya  pendidikan bagi Mahasiswa yang kurang mampu, salah satunya adalah dengan  memperluas anggaran beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi dan mempersempit  bantuan bagi mahasiswa yang kurang berprestasi.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Jika  kita melihat pada sejarah, pada dasarnya ada persamaan antara sistem  BHP dengan pendidikan di Indonesia pada abad ke-18, dimana pada masa  itu harga pendidikan dirasa sangat mahal sekali, dan pendidikan hanya  di peruntukkan bagi anak-anak Eropa dan Timur asing, sedangkan untuk  anak Pribumi mereka hanya mendapatkan pendidikan dasar yang pada akhirnya  hanya menjadikan mereka sebagai kuli atau buruh. Mungkin hanya mimpi  bagi seorang anak Pribumi yang kepintarannya standar untuk memasuki  jenjang pendidikan tertinggi, karena pada saat itu selain factor finansial  yang kuat, inteligensia yang diatas rata-rata juga patut diperhitungkan.  Kita ambil contoh saja Tan Malaka, beliau yang berlatarbelakang sebagai  keluarga yang miskin, namun karena kepintarannya beliau mampu menembus  tes untuk memasuki Sekolah Rajo yang pada saat itu dianggap sebagai  sekolah yang cukup bergengsi di Minangkabau.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Intensitanya  adalah, dengan diberlakukannya sistem BHP akan melahirkan sebuah pendidikan  yang berstandar Nasional dan kompetitif. Dimana adanya penekanan subsidi  pada sektor pendidikan, namun ruang lingkup pendidikan itu sendiri di  perluas dengan persaingan yang sangat ketat, salah satunya adalah dengan  tes-tes bagi mahasiswa yang berprestasi. Jadi di dalam pemikiran saya  bahwasanya harga pendidikan itu bukanlah murah, dan usaha kitalah untuk  mendapatkan pendidikan itu sendiri, karena dengan diberlakukannya sistem  BHP secara otomatis akan menekan kapasitas mahasiswa yang “berleha-leha”  di dalam menuntut ilmu. Mungkin sebagian orang akan menganggap bahwa  sistem BHP itu sangat identik dengan perdagangan di dalam dunia pendidikan,  namun jika kita melihat kepada realitanya bahwa sprit mahasiswa untuk  menuntut ilmu secara serius menurut saya itu hannya utopis belaka. Namun  perlu digaris bawahi bahwa dengan adanya sistem BHP pemerintah harus  memperluas ruang lingkup beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi, sehingga  bagi mahasiswa yang kurang mampu namun berprestasi dapat tetap melanjutkan  pendidikannya, namun bagi mahasiswa yang “kere” namun kurang berprestasi  akan tersingkirkan, hal ini dapat diibaratkan dengan seleksi alam di  dalam dunia pendidikan. Yang berprestasi akan bertahan, dan yang tidak  berprestasi akan tersingkirkan.</span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">* * * * *</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=50&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2009/01/23/percepat-bhp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AMERIKA BUBAR</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/12/26/amerika-bubar/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/12/26/amerika-bubar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 13:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Amerika  akan runtuh, Negara Super Power ini akan bubar setelah krisis global  menghantam Negara adidaya ini. Mungkin tidak sampai 20 puluh tahun kedepan,  suatu hari sejarah akan bercerita tentang sebuah Negara adidaya, yang  diakhir peradabannya harus menderita penyakit yang kronis dan dibenci  oleh banyak Negara karena kebijakan luar negrinya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=48&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Amerika  akan runtuh, Negara Super Power ini akan bubar setelah krisis global  menghantam Negara adidaya ini. Mungkin tidak sampai 20 puluh tahun kedepan,  suatu hari sejarah akan bercerita tentang sebuah Negara adidaya, yang  diakhir peradabannya harus menderita penyakit yang kronis dan dibenci  oleh banyak Negara karena kebijakan luar negrinya yang terlalu vokal.  Amerika seperti orang tua yang sudah renta yang mengidap <em>Post Power  Syndrom</em>, akan sangat sulit bagi Negara Paman Sam ini untuk menuai  masa keemasannya kembali. Dan inilah akhir dari sebuah peradaban yang  maju.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sepertinya  memang benar Amerika akan benar-benar akan bangkrut, perisai terkuatnya  pada sektor Ekonomi dan Militer telah mulai memudar, setelah krisis  AS yang begitu dahsyat. Apakah ini karma bagi AS atas kebijakan-kebijakan  luar negrinya yang terlalu vocal ? Dimana ketika banyak Negara menuduh  AS sebagai biang keladi dari krisis global ini. Atau ini adalah sebauah  pergeseran kekuatan ? Ketika Amerika bukan lagi kiblat Negara adidaya,  Negara-negara Asia seolah-olah mendapatkan tempat yang layak, Asia maju  dan optimis dengan sentral manufactur dan jasa mereka.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Di  usia yang sudah tidak muda lagi Amerika terlalu optimis untuk menjadi  obor dunia. Pasca keruntuhan Uni Soviet, Amerika mencicipi manisnya  kue kemenangan dan nikmatnya kekuasaan. Mungkin ada yang beranggapan  bahwa Amerika adalah sebuah Negara yang terlahir dengan keistimewaan,  sistem ekonomi yang kuat, demokrasi yang solit, dan teknologi yang canggih.  Itulah kebanggan rakyat Amerika.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kebijakan  luar Negri Amerika yang begitu vocal pada wilayah Timur Tengah adalah  sebuah konflik, dimana Amerika harus mengorbankan dana yang tidak sedikit  hanya dengan alasan menciptakan kestabilan di Timur Tengah. Dengan kekuatan  finansialnya Amerika yakin dapat menciptakan sebuah kedamaian di Timur  Tengah. Ekonomi Amerika yang menghasilkan seperempat produk dunia bruto  dan belanja pertahanan yang setara dengan penggabungan tujuh Negara  dibawahnya. Namun kedamaian seperti apa yang ingin diciptakan Amerika  ? Sebuah penindasan, atau sebuah pemerkosaan hak-hak masyarakat sipil  di wilayah Timur Tengah ?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Konflik  yang terjadi di Irak dan di Negara Timur Tengah lainnya bukanlah sebuah  kedamaiaan, namun sebuah politik campur tangan Amerika yang terlalu  dalam sehingga melahirkan sebuah gerakan-gerakan anarkis yang berujung  pada insiden WTC. Kebijakan luar negri Amerika di Timur Tengah yang  tidak tuntas dengan kedok kemanusiaan malah menciptakan sebuah konflik  baru bagi Negara-negara yang didikte oleh Amerika. Dimana Negara-negara  ini menjadi sebuah basis teroris ketika keamanan dan kestabilitas umum  yang telah terlanjur dibuncah oleh Amerika tidak tuntas.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Seharusnya  Amerika sadar bahwa sekarang mereka tidak sepopuler dan sekuat yang  mereka kira. Amerika harusnya sadar bahwa mereka adalah sebuah Negara  tua yang terseok-seok menunggu ajalnya. Pasca peristiwa 11 September,  reaksi dunia internasional tehadap serangan ini telah memperjelas ditingkat  mana banyak orang di luar Amerika sebenarnya bersikap ambivalen mengenai  posisi Amerika di mata dunia.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Konflik  yang tidak terselesaikan yang telah dimainkan oleh Amerika adalah sebuah  bahaya yang potensial. Konflik-konflik ini telah menyebabkan benih-benih  dendam dan benih-benih kebencian tumbuh subur pada Negara yang tidak  tuntas penanganannya, dan telah melahirkan sebuah gerombolan yang ingin  mengobarkan perang, serta memperkuat pemimpin yang bertindak semena-mena  karena adanya suasana ketakutan yang ditimbulkan oleh konflik. Kondisi-kondisi  tersebut telah menciptakan sebuah lahan yang subur bagi orang-orang  yang bersedia terlibat dalam terror massal. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Realitanya,  teroris yang ingin disingkirkan oleh Amerika adalah produk-produk dari  konflik yang ia ciptakan sendiri. Seperti konflik di Afganistan, Kashmir,  Tepi Barat, dan Jalur Gaza, adalah wilayah-wilayah konflik yang tidak  pernah terselesaikan oleh Amerika. Setelah mengobrak-abrik sebuah Negara,  dan lalu seakan-akan Amerika berusaha mencuci tangan dan merasa dirinya  adalah orang yang suci. Menurut asumsi saya Amerika adalah Negara yang  mengobarkan perang pada Negara-negara Timur Tengah, bukan teroris yang  mengobarkan perang kepada Amerika. Karena teroris tercipta dari politik  luar negri Amerika yang tidak tuntas dan meninggalkan benih-benih kebencian  pada Negara yang tidak tuntas tersbut.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Francis  Fukuyama meramalkan bahwa <em>“Abad yang mulai bergulir dengan penuh  kepercayaan diri pada kemenangan pamungkas demokrasi liberal barat ini  pada ujungnya kembali sepenuhnya pada  titik awal”. </em>Demikianlah yang akan terjadi pada Amerika ketika  Negara Paman Sam ini harus memulai dari awal lagi. Ada sebuah teori  yang menyatakan bahwa puncak dari sebuah peradaban adalah sebuah kehancuran,  dan sepertinya memang demikianlah yang akan dihadapi Amerika. Coba kita  melihat sejarah, bagaimana Yunani dan Romawi sebagai Negara yang maju  harus runtuh dan terpecah-pecah. Bukankah sejarah telah bercerita bagaimana  Glasnost dan Pestroika pecah di Rusia yang menyebabkan Uni Soviet harus  bubar dan memulai dari awal dengan identitas Rusia.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Seharusnya  kita belajar dari sejarah kekuasaan. Ketika sebuah Negara yang berperadaban  maju pada akhirnya akan terhenti oleh perpecahan, apakah dari sektor  keaman maupun dari sektor ekonomi. Sejarah akan terulang kembali ketika  Amerika merasa sangat optimis untuk menjadi <em>the leader of the  world</em>. Riwayat Amerika akan tamat, dan sejarah akan mencatat kembali  sebagai Negara yang tidak mau belajar dari sejarah bangsa lain. Intensitasnya  apun usaha yang akan dilakukan oleh Masyarakat Amerika, Politisi Amerika,  dan Pemimpin Amerika akan sangat sulit untuk menghidupkan obor kejayaan  Amerika, karena keruntuhan Amerika sudah didepan mata.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=48&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/12/26/amerika-bubar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>beschaafd</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/07/24/beschaafd/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/07/24/beschaafd/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 13:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tjahajatimoer.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[PROPAGANDA BUDAYA MINANGKABAU DAN BAYANGAN UTOPIS
Oleh : TJAHAJATIMOER
Adanya spirit bereforia telah melahirkan sebuah lapisan sosial yang sibuk dengan fantasi sesaat untuk mengenang kejayaan Minangkabau sebagai etnis budaya yang besar pada masa tempo dulu. Selain itu diperkuat pula dengan adanya asumsi bahwa budaya Minangkabau adalah budaya tertinggi karena menurut mereka budaya Minangkabau adalah sebuah budaya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=17&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">PROPAGANDA BUDAYA MINANGKABAU DAN BAYANGAN UTOPIS</span></strong><span style="font-size:18pt;"></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:&quot;">Oleh : TJAHAJATIMOER</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adanya spirit bereforia telah melahirkan sebuah lapisan sosial yang sibuk dengan fantasi sesaat untuk mengenang kejayaan Minangkabau sebagai etnis budaya yang besar pada masa tempo dulu. Selain itu diperkuat pula dengan adanya asumsi bahwa budaya Minangkabau adalah budaya tertinggi karena menurut mereka budaya Minangkabau adalah sebuah budaya yang ideal dalam pandangan masayarakat Minang itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun relitanya apa yang telah kita bangga-banggakan dan apa yang telah kita usahakan semuanya hanyalah mimpi yang pada akhirnya akan berubah menjadi sebuah utopis yang akan berpulang kepada kita kembali, dan itulah yang terjadi sekarang pada budaya Minangkabau yang selalu kita banggakan walau terkadang kita tidak pernah tahu makna dan artikulasi budaya Minangkabau bagi masyarakat Minang kontemporer. Keinginan untuk merevivalisasi budaya Minangkabau itu memang ada, walaupun pada nyatanya kita hanya terperangkap pada lingkaran dan tujuan yang tidak jelas juntrungannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin terkadang kita pernah sadar bahwa ada batasan-batasan yang tidak dapat di lewati yang pada akhirnya akan menghambat tujuan kita untuk membangkitkan kenangan kejayaan Minangkabau yang berlandaskan kepada Adat dan Islam. Batasan tersebut tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri, dimana kita yang hanya <em>fun</em> dengan budaya Minang namun kita tidak pernah tahu bagai mana cara untuk merespon dan mengaplikasikan kembali kejayaan budaya Minang kedalam masyarakat Minang kontemporer dalam artian merekonstruksi ulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu kita ketahui bahwa Minang dahulu dengan Minang sekarang sangat jauh berbeda, dan benang merah itu memang kentara sekali. Minagkabau pada masa tempo dulu adalah sebuah aktivitas masyarakat yang ditata oleh pola pemikiran yang ideal yang berlandaskan kepada Islam dan Adat. Namun <em>“lain padang lain ilang, lain lubuak lain ikannyo”,</em> masayarakat Minang kontemporer mempunyai ciri khas tersendiri didalam menentukan keberlanjutan aktivitas mereka. dimana pada periode masyarakat Minang kontemporer adalah sebuah aktivitas masyarakat yang dipengaruhi emosi zaman dan tuntutan paham mendunia yang dikenal dengan Era Globalisasi, dengan kata lain masyarakat Minang kontemporer adalah masyarakat yang sedang menuju kepada masyarakat Universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya atau banyaknya pengetahuan yang telah meng-influence telah melahirkan sinkronisasi yang sangat rumit. Masyarakat Minangkabau kontemporer adalah sebuah gerakan yang mencoba terus maju dan mencoba untuk menembus batas-batas kesetaraan yang berawal dari pengaruh globalisasi itu sendiri. Walaupun pada akhirnya yang akan diterima sebuah pengikisan dan kehilangan budaya yang esensial dari budaya Minangkabau, namun konsep ini adalah sebuah dilema yang harus diterima dari konsepsi global yang dianut masyarakat Minang kontemporer. Dan hal ini tentunya adalah sebuah keharusan untuk mencapai sebuah identitas yang baru dan untuk lepas dari bayang-bayang fanatisme yang telah menjadi darah daging bagi mayarakat Minang.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut saya desakan global atas budaya Minang adalah sebuah imajiner yang harus diaplikasikan pada budaya Minang itu sendiri, dengan harapan akan munculnya kepermukaan hal-hal yang positif dalam artian masyarakat Minang gaya baru yang awalnya hanya bertahan kemudian telah berubah menjadi sebuah kemajuan dalam artian yang ideal bagi masyarkat Minang kontemporer. Karena pada dasarnya budaya yang hanya bertahan umumnya lebih cendrung bersifat pasif dan berjalan ditempat, tampa mempunyai tujuan-tujuan yang pasti.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjadi orang Minang ideal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer diperlukan sebuah pola pemikiran dan gaya yang jelas terhadap sebuah perubahan yang akan ditempuh bersama. Hal ini bukan saja sebuah keharusan yang harus diterima atas konsesi yang mereka ambil, namun ini adalah sebuah rasa kecintaan yang berlandasan kepada emosi sezaman yang telah membentuk sebuah <em>entry</em> yang solit, prima dan ideal.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayang-bayang fanatisme yang masih menjadi <em>basic image</em> telah menjadi sebuah kontroversial yang tidak terbantahkan, dalam artian asumsi dan pandangan khalayak yang telah mendarah daging. Walaupun pada hakikatnya tidak pernah ada larangan untuk menginterprestasi pendapat mereka, namun adanya batasan pada pemikiran manusia sangat perlu untuk di delegitimasi atas paham-paham yang mereka anut. Masalahnya adalah apakah semua yang telah kita rencanakan akan menjadi sebuah hasil atau tujuan yang jelas untuk melahirkan masyarakat Minang kontemporer yang ideal hanya dengan berpijakan kepada emosial zaman. Atau semua ini hanya sebuah propaganda yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah bayangan masyarakat utopis atas konsesi kegagalan didalam menciptakan masayarakat Minang kontempor yang ideal. Karena seperti yang telah jabarkan diatas bahwa ada batasan-batasan yang sulit untuk ditembus hanya dengan spirit bereforia, namun juga diperlukan sebuah kesabaran yang sangat terkontrol.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu dampak dari globalisasi tidaklah sepenuhnya bembawa angin segar, namun terkadang globalisasi adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi masyarakat Minang kontemporer itu sendiri. Jika demikian adanya maka sudah tentu diperlukan sebuah pengkritisan sebagai bagian dari pola filterisasi. Serta mereka juga harus mengambil sebuah kebijakan yang berani dimana adanya sebuah pertaruhan atas keutuhan budaya Minangkabau itu sendiri. Selain itu adanya sikap fanatisme yang terlalu berlebihan juga dapat melahirkan sifat anarkisme ke permukaan yang akan menambah deretan antrian masalah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tjahajatimoer.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tjahajatimoer.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=17&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/07/24/beschaafd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/07/01/hello-world/</link>
		<comments>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/07/01/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 13:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjahajatimoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=1&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tjahajatimoer.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tjahajatimoer.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tjahajatimoer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tjahajatimoer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tjahajatimoer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tjahajatimoer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tjahajatimoer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tjahajatimoer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tjahajatimoer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tjahajatimoer.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tjahajatimoer.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tjahajatimoer.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tjahajatimoer.wordpress.com&blog=4115291&post=1&subd=tjahajatimoer&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tjahajatimoer.wordpress.com/2008/07/01/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/87d2682ef0b31b26eb6dcbb1f65c32aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tjahajatimoer</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>